Menteri
Dalam Negeri Jerman, Hans eter Friedrich (tengah) mendengarkan Mustafa
Imal (ka) selama sebuah konferesnsi berita setelah sebauh sesi
Konferensi Islam Jerman. Konferensi tersebut menuai badai kecaman karena
hanya berfokus pada masalah keamanan bukan masalah integrasi Muslim ke
dalam masyarakat. (Foto: Reuters)
BERLIN – Sebuah konferensi disponsori pemerintah
tentang Muslim di Jerman telah memicu sebuah badai kecaman karena
terlalu fokus pada keamanan dari pada mengatasi masalah yang dihadapi
minoritas yang cukup besar tersebut.
Konferensi Islam tersebut tidak seharusnya menjadi "alat lain dari
kebijakan keamanan," cendikiawan Muslim Armina Omerika mengatakan kepada
kantor berita Deutsche Welle pada hari Rabu (30/3) waktu setempat.
Ia mengatakan bahwa gagasan kemitraan keamanan yang diajukan Menteri
Dalam Negeri Hans-Peter Friedrich memajukan "kebudayaan yang meragukan
dalam pemberian informasi tentang Muslim yang lainnya."
Konferensi satu hari tersebut diadakan di Jerman pada Selasa untuk membahas integrasi Muslim Jerman ke dalam masyarakat.
Acara tahun ini dijadwalkan untuk membahas kemiskinan dan pendidikan
rendah di antara Muslim Jerman dan bagaimana untuk meringankan
perselisihan antara Muslim dan sistem sekolah Jerman.
Di samping itu, acara tersebut berfokus pada keamanan dan apa yang Muslim harus lakukan untuk melaporkan ancaman teror.
Menteri dalam negeri tersebut meminta para pemimpin Muslim untuk
melaporkan apa yang ia sebut dengan khotbah "radikal" oleh para imam dan
mengatakan kepada kepolisian tentang percakapan yang bisa saja
mengajukan sebuah ancaman untuk negara tersebut.
"Konferensi Islam tidak seharusnya menjadi sebauh konferensi keamanan
yang terselubung," Aiman Mazyek, pimpinan Dewan Muslim Pusat (ZMD),
mengatakan.
Ia mempertanyakan tentang manfaat dari konferensi tersebut.
"Saya tidak tahu apakah konferensi ini akan terjadi lagi," Mazyek,
yang memboikot konferensi tersebut sejak tahun lalu, mengatakan.
"Tidak ada substansi di sana. Tema yang secara sosial relevan menghilang dari dalamnya."
Banyak kritik yang memperingatkan bahwa memfokuskan pada upaya
keamanan yang ragu-ragu untuk mengintegrasikan Muslim Jerman ke dalam
masyarakat.
Merupakan diskriminasi untuk "membuat sebuah konferensi keamanan di
luar sebuah konferensi Islam," kata Sevim Dagdelen, juru bicara imigrasi
untuk The Left.
Sebuah pendekatan semacam itu lebih memungkinkan untuk mengembangkan pengasingan dari pada integrasi, ia memperingatkan.
Jerman juga kritis tentang desakan-desakan Menteri Dalam Negeri
Hans-Peter Fridrich bahwa Muslim bukan bagian dari masyarakat Jerman.
"Jika Anda berpendapat bahwa Muslim termasuk ke dalam Jerman namun
tidak agama mereka, Anda membukakan pintu dengan lebar untuk
Islamophobia," kata Bekir Alboga dari Masjid federasi DITIB.
Friedrich memicu sebuah badai awal bulan ini dengan mengatakan bahwa
Islam bukanlah sejarah di dalam Jerman. Menteri tersebut mengulangi
klaim tersebut pada Selasa.
"Karakter negara kita, kebudayaan kita selama berabad-abad, sistem nilai kita adalah Kristen dan barat," ia mengatakan.
Jerman memiliki antara 3,8 dan 4,3 juta Muslim, membentuk sekitar 5
persen dari keseluruhan 82 juta populasi, menurut studi yang
dilaksanakan oleh pemerintah.
Jerman telah menumbuhkan permusuhan terhadap kehadiran Muslim
baru-baru ini, dengan sebauh perdebatan yang memanas tentang imigrasi
Muslim ke dalam negara tersebut.
Sebuah poling baru-baru ini oleh Universitas Munster menemukan bahwa
warga Jerman memandang Muslim lebih dengan cara negatif dari dibanding
negara-negara tetangga Eropa lainnya.
Kantor berita harian Der Spiegel telah memperingatkan Agustus tahun
lalu bahwa negara tersebut menjadi tidak toleran terhadap minoritas
Muslimnya