Kaum
Muslim di Perancis dikhawatirkan dapat menjadi target kekerasan utama
jika pemerintah Nicolas Sarkozy bersikeras menggelar debat nasional
mengenai peran Muslim di negara tersebut. (Foto: Out Look India)
PARIS – Para pemimpin enam agama besar di Perancis
memperingatkan pemerintah pada hari Rabu (30/3) atas rencana debat
tentang Islam yang menurut mereka bisa menstigmatisasi kaum Muslim dan
menimbulkan prasangka ketika negara itu tengah mendekati pemilihan
nasional tahun depan.
Menimbang sebuah isu yang memecah-belah partai penguasa Presiden
Nicolas Sarkozy, UMP, Konferensi Pemimpin Agama Perancis mengatakan
bahwa diskusi mengenai penghormatan terhadap sistem sekuler Perancis
hanya akan menyebarkan kebingungan di masa yang bergejolak ini.
UMP berencana menggelar forum publik tentang sekulerisme minggu depan
yang dikecam oleh kritikus sebagai ejekan terselubung terhadap kaum
Muslim untuk memenangkan kembali suara pemilih yang membelok ke Front
Nasional ekstrim kanan dalam jajak pendapat lokal minggu lalu dan bisa
menggagalkan harapan terpilihnya kembali Sarkozy di tahun 2012.
Sekutu-sekutu Sarkozy terpecah atas strategi populis, dengan kaum
moderat seperti Perdana Menteri Francois Fillon secara terbuka menentang
apa yang mereka pandang sebagai kecenderungan UMP ke ekstrim kanan.
Menekankan bahwa agama harus memelihara harmoni sosial, para pemimpin
agama mengatakan bahwa debat itu bisa menutupi perspektif ini dan
menimbulkan kebingungan yang bersifat prasangka.
"Apakah partai politik, bahkan jika itu mayoritas, adalah forum yang
tepat untuk memimpin ini?" tanya mereka dalam pernyataan bersama.
Pernyataan itu ditandatangani oleh pemimpin Katolik Roma, Muslim,
Yahudi, Protestan, Kristen Ortodoks, dan Budha. Mereka membentuk
kelompok itu tahun lalu untuk mengkoordinir pendekatan mereka atas
isu-isu agama dalam debat publik.
Pemimpin partai UMP Jean-Francois Cope menolak tuduhan menghasut
ketakutan, mengatakan bahwa debat itu adalah tentang bagaimana sistem
sekuler dihormati dalam praktiknya akan memastikan kesetaraan semua
agama.
Tapi banyak kritikus yang mengatakan bahwa isu-isu yang ditekankan
oleh UMP – wanita berjilbab, makanan halal di kantin sekolah, kaum
Muslim yang sholat di jalan di luar Masjid yang penuh sesak – semuanya
menarget Islam.
Para pemimpin agama mengatakan bahwa Perancis telah mengadakan banyak
debat panjang dan serius tentang sistem sekulernya, yang diperkenalkan
tahun 1905 untuk memisahkan gereja dan negara, dan mempertanyakan
kebutuhan untuk adanya debat serupa lain.
"Kami memperjuangkan sekulerisme yang masuk akal," ujar mereka.
"Sekulerisme tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai dasar kita, terutama
martabat dan rasa hormat kepada manusia."
Para pemimpin agama mendukung kaum Muslim, yang dengan jumlah lima
juta jiwa menjadi agama terbesar kedua Perancis setelah Katolik.
"Seringkali sulit untuk menjadi seorang Muslim di Perancis," ujar Rabi Besar Gilles Bernheim minggu lalu.
"Kesulitannya semakin tinggi hari ini dalam iklim yang tidak sehat
ini, diperparah oleh perbincangan yang memecah-belah alih-alih
menyatukan," ujar pemimpin Yahudi itu.