Sebelumnya,
Pakistan bermitra dengan AS dalam penjualan senjata. Perjanjian kedua
negara memupus setelah banyaknya masalah, berujung pada Pakistan
mendapuk China sebagai mitra baru mereka. (Foto: Foreign Policy Journal)
ISLAMABAD – Pakistan meningkatkan persenjataan
berkemampuan nuklirnya dengan menggandeng China sebagai mitra senjata
strategisnya yang baru dan menjauh dari AS.
Hingga pertengahan tahun 1960an, AS adalah pemasok senjata utama bagi
Pakistan, tapi negara itu mulai menjauh setelah bertahun-tahun
menjalani hubungan yang sulit dan kadang tidak bisa diprediksi menyusul
serangan 11 September.
Fakta bahwa AS tidak lagi sepenuhnya mendukung ambisi militer
Pakistan telah mendorong Islamabad untuk menggantikan Amerika dengan
China sebagai sumber utamanya untuk material pertahanan, setidaknya
terkait dengan persenjataan, perkembangan, dan pelatihan.
"China dipandang tidak banyak mengikat seperti hubungan dengan AS,"
ujar Nate Hughes, direktur analisis militer di website intelijen
Stratfor.
Seorang pejabat pemerintah Pakistan baru-baru ini dikutip mengatakan
bahwa penting bagi angkatan laut untuk memiliki lebih banyak kapal selam
guna mengimbangi "tekanan yang pasti akan kami alami akibat ekspansi
cepat kapabilitas angkatan laut India."
"Saudara-saudara China kami selalu membantu kami dan sekarang kami kembali meminta bantuan mereka," ujarnya.
Meskipun nilai kontrak itu dirahasiakan, orang akan heran bagaimana
Pakistan bisa memiliki sumber sebesar itu untuk belanja pertahanan.
"Sementara Presiden Asif Zardari pergi ke China setiap enam bulan dan
menandatangani satu MoU setiap kalinya, dia telah berkomitmen terlalu
banyak dari yang bisa dia lakukan. Terlalu banyak pukulan balik untuk
kontrak-kontrak itu," ujar Maria Sultan, direktur jenderal untuk South
Asia Strategic Stability Institute di Islamabad.
"Kita harus melihat kelangsungan jangka panjang dari
pinjaman-pinjaman ini dan melihat apa yang bisa dilunasi oleh Pakistan
dalam 5, 10, 15 tahun ke depan. Banyak pinjaman dimaafkan dengan China
yang tidak meminta Paksitan untuk mengembalikan modal setelah membayar
bunga," tambahnya.
Tapi kemungkinan ada masalah dalam hubungan Pakistan-China seperti
yang ditunjukkan oleh Sultan bahwa kedua negara memiliki masalah dalam
memahami pola pikir satu sama lain.
"Pakistan memiliki kesulitan dalam menerapkan ke China pendekatan
keras bisnis seperti yang dialaminya dengan AS di awal. Itu bukan
pendekatan dengan China, yang merupakan pendekatan personal yang
dibangun seiring berjalannya waktu melalui persahabatan dan pembangunan
rasa saling percaya. China memberikan dalam waktu 15 tahun apa yang bisa
diberikan AS dalam waktu empat tahun," jelasnya.
Itu membuat Pakistan masuk ke dalam hubungan yang lebih dalam dengan
China, kelemahan lain ketika keragaman pemasok adalah kebijakan standar
di banyak negara untuk memastikan aksesibilitas ke persenjataan.