Menurut Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Sleman Shavitri Nurmala Dewi, wacana membangun rumah Mbah Maridjan sebagai monumen erupsi Gunung Merapi dapat direalisasikan jika gunung itu sudah aman dan kondusif.
Saat ini, pihak dinas Pariwisata tengah berupaya meminta izin penggunaan rumah Mbah Maridjan sebagai monumen erupsi Gunung Merapi kepada keluarga almarhum juru kunci Merapi itu.
"Kami menunggu kepastian izin dari keluarga almarhum Mbah Maridjan agar rumahnya boleh digunakan sebagai monumen. Sebagian bangunan rumah Mbah Maridjan masih utuh sehingga tidak perlu banyak membangun," katanya.
Dalam merealisasikan pembangunan monumen tersebut, DInas Pariwisata akan tetap berkoordinasi dengan instansi yang berkompeten, di antaranya Pemerintah Provinsi DIY serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.
Pembangunan monumen tersebut menurut Shavitri tetap memperhatikan asas keselamatan bagi masyarakat yang akan mengunjungi tempat itu, dan aktivitas gunung direkomendasikan sudah aman meskipun Dusun Kinahrejo nantinya dinyatakan sebagai zona bahaya dan tidak menjadi permukiman.
Dengan demikian, jika monumen tersebut dapat direalisasikan, nantinya masyarakat hanya boleh berada di monumen itu hanya beberapa jam, dan mereka kemudian harus segera meninggalkan tempat tersebut.
Mengenai sumber dana pembangunan monumen tersebut, ia mengatakan, diharapkan dari APBD Kabupaten Sleman dan dipersilakan jika ada pihak swasta yang ingin berpartisipasi.
Dengan demikian, jika monumen tersebut dapat direalisasikan, nantinya masyarakat hanya boleh berada di monumen itu hanya beberapa jam, dan mereka kemudian harus segera meninggalkan tempat tersebut.
Mengenai sumber dana pembangunan monumen tersebut, ia mengatakan, diharapkan dari APBD Kabupaten Sleman dan dipersilakan jika ada pihak swasta yang ingin berpartisipasi.