Perbedaan antara negara berkembang dan negara maju tidak dilihat dari
umur negara itu. Bahkan, ketersediaan sumber daya alam suatu negara juga
tidak menjamin kesejahteraan negara tersebut.Pendapat ini disampaikan Staf Pengajar Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Hastuti dalam Pelatihan Guru PAUD. Dia mencontohkan, Mesir dan India yang umurnya lebih dari 2.000 tahun tetap terbelakang. Sedangkan Singapura, Kanada, Australia, dan Selandia Baru dengan umur kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini telah menjadi bagian dari negara maju di dunia.
Sementara Jepang, lanjutnya, dengan area terbatas dengan luas daratan 80 persen berupa pegunungan dan tidak cukup untuk pertanian dan peternakan, berhasil menjadi raksasa ekonomi nomor dua dunia. Lihat juga Swiss, negara ini tidak memiliki perkebunan coklat karena lahan yang bisa ditanami hanya 11 persen, tetapi berhasil menjadi negara pembuat coklat terbaik dunia. Bahkan tidak memiliki reputasi yang baik dalam keamanan, integritas dan ketertiban, tetapi saat ini bank-bank di Swiss menjadi bank yang sangat disukai di dunia.
"Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara berkembang akan sependapat tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan, ras, dan warna kulit. Perbedaannya adalah pada sikap atau perilaku masyarakatnya yang telah terbentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan,"
Indeks pembangunan manusia Indonesia terus menurun. Pada 2001 Indonesia berada pada posisi 102, setahun kemudian pada posisi 110, naik lagi pada posisi 112 pada 2003, dan saat ini berada pada posisi 108 dari 177 negara di dunia. Selain itu, indeks kompetensi manusia Indonesia pada angka 35 dari maksimum 100 dan menjadi negara terkorupsi di kawasan Asia Pasifik.
"Dari data tersebut Indonesia mengalami kemunduran bangsa yang ditandai dengan meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, penggunaan kata dan bahasa yang memburuk, perilaku merusak yang meningkat (narkoba, seks bebas, dan alkohol), kaburnya pedoman moral baik dan buruk, penurunan etos kerja, rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru, tidak jujur, tidak bertanggungjawab, dan adanya rasa saling mencurigai," tuturnya.
Menurut Dwi, kunci untuk memajukan bangsa Indonesia adalah lewat perilaku yang menghormati nilai dan prinsip dasar kehidupan. "Karakter sebagai kunci keberhasilan individu dan bangsa. Para CEO di AS menempatkan kualitas karakter sebagai penentu utama keberhasilan seseorang di dunia kerja," pungkasnya.
Sumber: Okezone, Jumat (8/6/2012).