KARACHI – Otoritas boneka Pakistan
mengklaim tengah melakukan penyelidikan terkait munculnya sebuah video
yang memperlihatkan seorang pria tak bersenjata ditembak oleh lima
tentara Pakistan di Karachi.
Mayor Jenderal Aijaz Chaudry, kepala ranger untuk provinsi Sindh
mengatakan penyelidikan dibentuk setelah rekaman pembunuhan terhadap
Afsa Shah (22) muncul di stasiun televisi lokal dan situs internet
Youtube pada Kamis (9/6/2011).
Shah diduga telah mencoba mencuri di rumah keluarga polisi di Clifton, Karachi, perumahan paling eksklusif pada Rabu.
Saudara Shah, Salik, seorang reporter televisi lokal divisi
kriminalitas membantah bahwa Afsa adalah seorang pencuri seperti yang
dituduhkan tentara Pakistan, yang juga dikenal sebagai ranger yang
menembak orang tak bersalah.
“Saudaraku telah terbunuh di luar hukum. Saudaraku tewas secara
brutal oleh rangers,” ujar Salik. “Apa salah yang telah ia lakukan
terhadap orang lain?” Seperti yang dilaporkan Al Jazeera kemarin (10/6).
Rekaman pembunuhan brutal tersebut membuat marah rakyat Pakistan.
Banyak orang di Pakistan sudah kehilangan kepercayaan terhadap
militer nasional, setelah “pembunuhan” syeikh Usamah bin Ladin di
Pakistan dan serangan berulang tanpa sanksi, drone AS di perbatasan
Pakistan.
Video muncul memperlihatkan seorang pemuda yang memohon agar ia
dibiarkan hidup, lalu ia ditembak di tangan dan paha oleh tentara dan
kemudian dibiarkan hingga meninggal.
Rekaman itu memicu kemarahan dari ratusan pelayat yang menghadiri pemakaman Shah.
Banyak yang meneriakkan ranger adalah pembunuh dan demonstran di
jalan-jalan di Karachi menuntut hukuman gantung bagi para pembunuh.
Rehman Malik, Menteri Dalam Negeri Pakistan, mengatakan “Tindakan ini
sangat melanggar hukum, bahkan jika benar pemuda itu merampok, itu
tidak pantas dilakukan terhadapnya.”
Bulan lalu, tentara keamanan Pakistan menembak mati lima warga
Chechnya yang tidak bersenjata di pos pemeriksaan di dekat kota Quetta.
Salah satu korban adalah seorang wanita yang tengah hamil tua.
Pejabat Pakistan mengklaim bahwa kelimanya bersiap untuk melakukan
serangan bunuh diri, namun rekaman menunjukkan mereka tidak bersenjata
dan tidak ada bahan peledak yang ditemukan di dekat jenazah mereka.