
WASHINGTON – Protes kekerasan baru-baru ini di Afghanistan, reaksi terhadap pembakaran Al-Qur'an oleh sebuah gereja kecil di AS bulan lalu, mengingatkan pada sebuah realita yang tidak bisa dihindari.
Ekstrimis di semua sisi – baik di Amerika yang demokratis dan bebas
maupun di Afghanistan yang korup dan diduduki – menciptakan kekacauan
dan kerusakan, mendemonstrasikan bahaya yang didatangkan oleh gabungan
antara ketidaktahuan dan kebodohan. Akhirnya, mereka menimbulkan
kematian dari orang-orang yang tak bersalah.
Beberapa pihak mengutip perbedaan antara kedua aksi: yang satu membakar sebuah kitab, lainnya menghilangkan nyawa manusia.
Ini tentu saja benar, tapi apa yang sebenarnya mendalangi aksi bodoh dan penuh kebencian ini, selain reaksi dari pihak Muslim?
Pastur Terry Jones, dari Dove World Outreach Church di Florida, telah
menikmati popularitas dan mungkin bahkan kekayaan sejak menyerukan
untuk "Hari Membakar Al-Qur'an" bulan September tahun lalu.
Dia terbujuk untuk tidak melakukan aksinya menyusul kecaman dunia
dari umat Kristen dan para pemimpin politik, agama, dan komunitas
Amerika.
Bulan Maret lalu, Jones dan beberapa rekannya membakar sebuah
Al-Qur'an. Tapi anehnya, sementara ancaman tahun lalu berbuah kemarahan
di seluruh dunia Muslim dan protes massal di sebagian besar
negara-negara Arab, aksi itu sendiri setelah dilakukan hampir tidak
mendatangkan reaksi dari negara-negara yang sama, terlepas dari
demonstrasi di Afghanistan.
Ratusan ribu pemrotes memenuhi jalan-jalan di Kairo, Damaskus, Amman, Sanaa, dan banyak kota Arab lainnya musim panas lalu, mengecam Jones, membakar bendera, dan menyerukan kampanye global untuk melindungi Al-Qur'an.
Sekarang setelah Jones benar-benar melakukan ancamannya, tidak satu
demonstrasi pun yang digelar, tidak ada protes massal yang diserukan,
tidak ada SMS atau email yang disebarkan, dan tidak ada hari kemarahan
yang diadakan.
Mengapa tidak ada aksi balasan? Karena kaum muda Arab memiliki
pikiran dan aspirasi yang lebih tinggi, sebuah tren yang tidak ada dalam
konteks Afghanistan, Pakistan, dan negara-negara lain di mana korupsi
masih menjamur.
Tidak bisa dikatakan dengan pasti apakah pemberontakan di kawasan itu
telah membuat negara-negara Arab melihat ke arah lain untuk menyalurkan
energi kolektif mereka, tapi tidak diragukan lagi bahwa ketiadaan
protes anti-Jones bukan dikarenakan kurangnya energi atau kemampuan.
Selama beberapa tahun, mereka yang mempelajari dunia Arab melalui
mobilitas dan narasi massa telah menekankan bahwa prioritas pertama bagi
rakyat Arab (dan Muslim untuk perluasannya) adalah pengejaran kebebasan
dan perebutan kembali martabat mereka yang lama hilang.
Manifestasi dari sikap ekstrimis budaya, agama, dan ideologi adalah
reaksi dari iklim politik stagnan yang diterapkan oleh rezim lalim,
kurangnya HAM, dan ketiadaan harapan untuk masa depan yang lebih baik.