Membakar Mitos Tentang Islam

Written By Juhernaidi on Sabtu, 18 Juni 2011 | 8:15:00 PM

Para pengunjuk rasa Pakistan menggelar aksi protes damai terhadap Pastur Terry Jones yang melakukan pembakaran Kitab Suci Al-Qur'an, di Kabul pada 7 April 2011. (Foto: AP)
WASHINGTON  – Protes kekerasan baru-baru ini di Afghanistan, reaksi terhadap pembakaran Al-Qur'an oleh sebuah gereja kecil di AS bulan lalu, mengingatkan pada sebuah realita yang tidak bisa dihindari.
Ekstrimis di semua sisi – baik di Amerika yang demokratis dan bebas maupun di Afghanistan yang korup dan diduduki – menciptakan kekacauan dan kerusakan, mendemonstrasikan bahaya yang didatangkan oleh gabungan antara ketidaktahuan dan kebodohan. Akhirnya, mereka menimbulkan kematian dari orang-orang yang tak bersalah.

Beberapa pihak mengutip perbedaan antara kedua aksi: yang satu membakar sebuah kitab, lainnya menghilangkan nyawa manusia.

Ini tentu saja benar, tapi apa yang sebenarnya mendalangi aksi bodoh dan penuh kebencian ini, selain reaksi dari pihak Muslim?

Pastur Terry Jones, dari Dove World Outreach Church di Florida, telah menikmati popularitas dan mungkin bahkan kekayaan sejak menyerukan untuk "Hari Membakar Al-Qur'an" bulan September tahun lalu.

Dia terbujuk untuk tidak melakukan aksinya menyusul kecaman dunia dari umat Kristen dan para pemimpin politik, agama, dan komunitas Amerika.

Bulan Maret lalu, Jones dan beberapa rekannya membakar sebuah Al-Qur'an. Tapi anehnya, sementara ancaman tahun lalu berbuah kemarahan di seluruh dunia Muslim dan protes massal di sebagian besar negara-negara Arab, aksi itu sendiri setelah dilakukan hampir tidak mendatangkan reaksi dari negara-negara yang sama, terlepas dari demonstrasi di Afghanistan.

Ratusan ribu pemrotes memenuhi jalan-jalan di Kairo, Damaskus, Amman, Sanaa, dan banyak kota Arab lainnya musim panas lalu, mengecam Jones, membakar bendera, dan menyerukan kampanye global untuk melindungi Al-Qur'an.

Sekarang setelah Jones benar-benar melakukan ancamannya, tidak satu demonstrasi pun yang digelar, tidak ada protes massal yang diserukan, tidak ada SMS atau email yang disebarkan, dan tidak ada hari kemarahan yang diadakan.

Mengapa tidak ada aksi balasan? Karena kaum muda Arab memiliki pikiran dan aspirasi yang lebih tinggi, sebuah tren yang tidak ada dalam konteks Afghanistan, Pakistan, dan negara-negara lain di mana korupsi masih menjamur.

Tidak bisa dikatakan dengan pasti apakah pemberontakan di kawasan itu telah membuat negara-negara Arab melihat ke arah lain untuk menyalurkan energi kolektif mereka, tapi tidak diragukan lagi bahwa ketiadaan protes anti-Jones bukan dikarenakan kurangnya energi atau kemampuan.

Selama beberapa tahun, mereka yang mempelajari dunia Arab melalui mobilitas dan narasi massa telah menekankan bahwa prioritas pertama bagi rakyat Arab (dan Muslim untuk perluasannya) adalah pengejaran kebebasan dan perebutan kembali martabat mereka yang lama hilang.
Manifestasi dari sikap ekstrimis budaya, agama, dan ideologi adalah reaksi dari iklim politik stagnan yang diterapkan oleh rezim lalim, kurangnya HAM, dan ketiadaan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Simulasi Jangka Sorong