Apa kaitan tsunami dengan pembebasan (futuhat) Al Aqsha?
Apakah revolusi yang saat ini melanda negara-negara di Timur Tengah akan
berdampak luas ke seluruh dunia dan dapat membebaskan Al Aqsha dari
cengkraman negara zonis yahudi? Kalau ingin berpartispasi, dari mana
kita harus memulai?
Gelombang tsunami revolusi Islam : Dari Tunisia hingga Al Aqsha
Tsunami adalah istilah bahasa Jepang, tsu berarti pelabuhan dan nami
berarti laut. Secara singkat tsunami berarti gelombang laut yang
menghantam pelabuhan. Istilah tsunami menjadi populer di saat gempa
tektonik berkekuatan 8.5 SR terjadi dan berpusat di Samudra India di
kedalaman 20 km selatan kota Meulaboh, Aceh. Gempa tektonik ini disertai
gelombang pasang (tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai
di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri Langka, India, Bangladesh,
Malaysia, Maladewa, dan Thailand.
Kedahsyatan hantaman gelombang tsunami inilah yang mungkin menginspirasi majalah terbitan Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP), INSPIRE untuk
menjadikannya judul dan bahasan spesial edisi ke-5, Musim Semi 2011,
yakni “The Tsunami of Change” atau Tsunami Perubahan. Judul ini juga
merupakan sebuah artikel yang ditulis oleh Syekh Anwar Al Awlaki, ulama
asal Yaman yang saat ini tengah diburu Amerika Serikat.
Editorial majalah tersebut menulis, “Menurut kami, revolusi yang
tengah mengguncang singgasana para diktator itu baik bagi orang-orang
Islam, baik bagi mujahidin dan buruk bagi imperialis Barat dan
cecunguk-cecunguk mereka di dunia Islam.”
Gelombang tsunami revolusi Islam di Timur Tengah bermula dari
Revolusi Tunisa yang dipicu oleh seorang tukang sayur bernama Muhammad
Bouazizi, berumur 26 tahun. Muhammad Bouazizi adalah simbol pemuda
tertindas di wilayah Sidi Bouzid Sidi, 300 kilometer sebelah selatan
ibukota Tunisia. Pemuda di sana banyak yang bergelar sarjana namun
sehari-hari hanya berkeliaran di café-cefe di jalan berdebu kota miskin,
menunjukkan kegagalan pemerintah memberikan jaminan pekerjaan yang
layak.
Revolusi Tunisia meledak ketika Bouazizi tidak tahan melihat
kedzoliman rezim tiran Tunisia atas dirinya dan rakyatnya. Dia pun
menuangkan bahan bakar ke tubuhnya dan membakar dirinya sendiri.
Ternyata Bouazizi tidak hanya membakar dirinya tetapi membakar amarah
seluruh rakyat Tunisia atas kediktaktoran rezim yang berkuasa. Rezim
diktaktor Tunisia, Ben Ali pun akhirnya tumbang dan tanpa disadarinya,
Bouzazizi telah memicu gelombang tsunami revolusi Islam yang akan
menggulung para tiran lainnya di Timur Tengah.
Revolusi Tunisia telah memicu solidaritas warga di dunia Arab,
terutama umat Islam yang muak dengan sistem pemerintahan diktaktor dan
sekuleristik yang selama ini diterapkan. Setelah Tunisia, gelombang
tsunami revolusi Islam merembet ke Mesir dan berhasil menggulingkan
fir’aun modern Mesir, Husni Mubarak.
Gelombang tsunami revolusi Islam pun meluas ke Yaman dan siap menyapu
kekuasaan tiran Ali Abdullah Saleh. Begitu juga Libia, tidak luput dari
terjangan badai tsunami revolusi Islam, dimana saat ini masa-masa
kepemimpinan diktaktor Moamar Khadaffi berada di ujung tanduk digempur
habis-habisan oleh para pejuang revolusi. Kejatuhan Khadaffi tinggal
menghitung hari.
Setelah Libia, gelombang tsunami revolusi Islam akan menyusul
menerjang Suriah, Yordania, dan bukan tidak mungkin akan menyapu
negara-negara Timur Tengah lainnya. Akhirnya, gelombang tsunami revolusi
Islam akan bermuara ke Al Aqsha, kota suci ummat Islam yang saat ini
berada dalam cengkraman yahudi-zionis-Israel.
Syekh Anwar Al Awlaki memberikan catatan penting dalam tulisannya
bahwa “Revolusi mampu mematahkan ketakutan yang selama ini mendekam di
hati dan benak kaum Muslimin bahwa para tiran tidak bisa dikalahkan.”
Hantaman tsunami menggulung para tiran Timur Tengah
Dalam buku “Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib baru”, DR. Abdullah An
Nafisi menjelaskan hakikat penjajahan Amerika di Timur Tengah. Beliau
berkata :
“Seluruh negara Arab sudah terjajah, khususnya daerah Teluk dan
daerah kaya minyak semuanya telah terjajah. Aku tidak mengecualikan
satupun. Semua negara kita terjajah. Dan penjajahan itu bisa dalam
bentuk nyata dan juga bisa dalam bentuk tersembunyi/samar.”
Beliau melanjutkan:
“Saya yakin bahwa rezim Saudi sekarang menjadi tongkat pemukul di
tangan Amerika, tidak terkecuali. Ini bukan rezim sendiri, tapi ini
kepanjangan tangan Amerika dalam menguasai Kawasan Teluk. Dan jika kita
serang pengaruh Amerika dengan kekuatan, baik melalui perlawanan atau
dengan cara yang mereka sebut sebagai “Teror” maka saya yakin bahwa
rezim ini akan segera jatuh.”
Artinya, pemerintah Timur Tengah, khususnya Saudi Arabia telah
menjadi partner Salibis dan Amerika dalam melawan jihad dan memerangi
mujahidin serta agama Islam dan kaum Muslimin. Amerika menjadikan mereka
sebagai kaki tangannya untuk menguasai dan menjajah Timur Tengah dan
dunia Islam. Oleh karena itu, jika kita ingin memerangi dan
menghancurkan Amerika maka sudah tentu kita juga berhadapan dengan
antek-anteknya, yang notabene dari kulit dan bangsa serta agama kita
sendiri, yakni rezim-rezim tiran Timur Tengah maupun negara-negara
lainnya di dunia ini.
Tidak bisa dipungkiri, tumbangnya para tiran Timur Tengah
melempangkan jalan menuju pembebasan Palestina. Ma’sadatul Mujahidin di
Palestina dengan sangat gembira dan penuh suka cita mengucapkan selamat
atas lengsernya fir’aun Mesir, Husni Mubarok. Namun mereka meminta
perjuangan terus berlanjut dan berpesan :
“Janganlah seorang dari antum sholat fajar kecuali di Gaza, karena perbatasan belum runtuh.”
Syekh Mujahid, Asy Syahid (Insya Allah) Usamah bin Laden bersumpah :
“Demi jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, yang mengangkat langit
tanpa tiang. Sungguh, janganlah Amerika dan orang-orang yang berada di
dalamnya bermimpi untuk hidup tenang hingga saudara-saudara kami yang
berada di Palestina hidup dengan tenang.”
Faktanya, para tiran diktaktor Timur Tengah inilah yang menjadi para
pelayan dan pembela kepentingan Amerika dan sekutu-sekutunya, khususnya
kepentingan zionis-yahudi-Israel dalam mencengkram bumi suci Palestina
dan penistaan terhadap Masjid suci Al Aqsha. Saat ini penguasa zionis
Israel sedang berdebar, takut dan harap-harap cemas melihat dahsyatnya
gelombang tsunami revolusi Islam yang akan menggulung mereka sekaligus
mimpi-mimpi jahat mereka untuk mendirikan negara Israel Raya.
Al Aqsha di bawah cengkraman yahudi-zionis-Israel
Bumi Palestina adalah bumi yang diberkahi. Di sana terdapat Masjid Al
Aqsha, kiblat pertama kaum Muslimin dan tempat mi’raj Nabi Muhammad
SAW. Saat ini Palestina dalam cengkraman yahudi-zionis-Israel, hingga
sampai kapan pun, sebelum Palestina kembali dibebaskan, masalah
Palestina akan tetap menjadi masalah sentral (pusat) bagi kaum Muslimin.
Rezim-rezim tiran di Timur Tengah dan dunia Islam hingga saat ini
tidak tergerak sama sekali untuk membebaskan Masjid Al Aqsha dari
cengkraman yahudi-zionis-Israel. Bahkan para pemerintah diktaktor ini,
seperti Mesir dan Saudi, berkolusi bersama musuh zionis salibis di dalam
mengembargo saudara Muslim kita di Gaza dan melarang saudara Muslim di
sana untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya yang pokok, berupa makanan dan
obat-obatan.
Sadisnya lagi, rezim tiran Mesir di bawah fir’aun Husni Mubarak
membocorkan saluran air dan gas antara perbatasan Mesir dan Gaza , yang
membunuh orang-orang tak berdosa di sana. Na’udzu billah min dzalik!
Syekhul Jihad, Abdullah Azzam mengatakan bahwa kemuliaan Palestina
tidak mungkin kembali hanya dengan ucapan-ucapan saja. Beliau mengatakan
:
“ Apakah mereka bisa mengembalikan sejengkal saja dari tanah
Palestina?. Sesungguhnya dien Allah (Islam) tidak akan menang hanya
dengan omong kosong belaka, dan negeri-negeri Islam juga tidak akan
terjaga hanya dengan pantun, lagu dan syair serta lainnya.”
Syekh Aiman Az Zawahiri, menaruh perhatian yang sangat besar terhadap
Palestina dengan mengeluarkan pesan dengan judul “Palestina merupakan
urusan kita dan urusan setiap muslim”.
Dalam sebuah wawancara dengan As Sahab Media beliau menyatakan :
“Oleh karena ini saya ingatkan kepada setiap orang yang merdeka
dan terhormat di Palestina agar tidak membantu menjual Palestina dan
tidak membantu menyerahkannya kepada yahudi ataupun berkompromi dengan
mereka, meskipun hanya sebutir pasir.
Saya juga tujukan (peringatan saya) kepada setiap orang yang telah masuk dalam organisasi sekuler yang berpaling menjauh dari syariat dan menyerahkan sebagian besar Palestina, dan setuju dengan solusi setan barat dan timur.
Saya tujukan kepada mereka dan saya katakan : Kembalilah kalian kepada kebenaran, kepada jalan Islam dan jihad, berdirilah kalian bersama umat muslim di bawah panji tauhid melawan invasi baru salibis-zionis. Jika kita tidak menyadari bahwa Palestina bukanlah pusat peperangan antara salibis melawan Islam, maka kita tidak akan menyadari sesuatupun. Yakinlah kalian dengan Rabb kalian Sang Pencipta, Pemberi Rizki, Maha Kuat dan Maha Perkasa. Dan ketahuilah bahwa organisasi-organisasi tersebut “tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (Al-Furqan: 3). Lalu bagaimana mungkin mereka dapat melakukan segala sesuatu untuk kalian?”
Saya juga tujukan (peringatan saya) kepada setiap orang yang telah masuk dalam organisasi sekuler yang berpaling menjauh dari syariat dan menyerahkan sebagian besar Palestina, dan setuju dengan solusi setan barat dan timur.
Saya tujukan kepada mereka dan saya katakan : Kembalilah kalian kepada kebenaran, kepada jalan Islam dan jihad, berdirilah kalian bersama umat muslim di bawah panji tauhid melawan invasi baru salibis-zionis. Jika kita tidak menyadari bahwa Palestina bukanlah pusat peperangan antara salibis melawan Islam, maka kita tidak akan menyadari sesuatupun. Yakinlah kalian dengan Rabb kalian Sang Pencipta, Pemberi Rizki, Maha Kuat dan Maha Perkasa. Dan ketahuilah bahwa organisasi-organisasi tersebut “tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (Al-Furqan: 3). Lalu bagaimana mungkin mereka dapat melakukan segala sesuatu untuk kalian?”
Sementara itu, Syekh Abu Mush’ab Az Zarqawi (semoga Allah
merahmatinya) juga pernah mengatakan ucapan masyhur tentang perjuangan
para mujahidin untuk membebaskan (futuhat) Al Aqsha, dengan ucapannya :
“Sesungguhnya kami berperang di Irak sementara mata kami tertuju ke Baitul Maqdis”.
Lihatlah, betapa masalah Palestina telah menjadi masalah seluruh kaum
Muslimin yang masih ada setitik iman dan ghiroh Islam dalam dadanya.
Masalah ini tidak bisa dijadikan masalah lokal, hanya khusus rakyat
Palestina saja, tetapi harus menjadi masalah global, seluruh ummat Islam
sedunia.
Kewajiban kaum Muslimin untuk membebaskan (futuhat) tanah
kaum Muslimin di Palestina, tempat Masjidil Aqsha, tempat Isra Nabi
Muhammad SAW., adalah kewajiban yang tidak dapat ditolak lagi.
Alhamdulillah, gelombang tsunami revolusi Islam yang saat ini terjadi di
Timur Tengah Insya Allah, dengan idzin-Nya akan melapangkan jalan kita
menuju pembebasan Al Aqsha.
Dari sini kita memulai di Al Aqsha kita bertemu
Membebaskan Masjid Al Aqsha di Palestina adalah impian setiap Muslim
sejati. Membebaskan Palestina adalah impian tertinggi kaum Muslimin,
khususnya mujahidin. Membebaskan Al Aqsha adalah tujuan utama pergerakan
jihad di Afghanistan sejak kepemimpinan Syekhul Jihad, Syekh Abdullah
Azzam rahimahullah, hingga kepemimpinan Syekh Usamah bin Laden
rahimahullah.
Futuhat atau pembebasan Masjid Al Aqha adalah sebuah kepastian,
karena dia adalah janji Allah SWT., serta nubuwah Rasulullah SAW.
Allah SWT., berfirman :
“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan
yang besar. Maka apabila dating saat hukuman bagi kejahatan yang pertama
dari kejahatan itu, Kami mendatangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang
mempunyai kekuatan besar, lalu mereka mencarimu keluar masuk kampong
(dan lorong) ke seluruh negeri. Suatu ketetapan yang pasti akan
terlaksana.” (QS Al Isra’ : 4-5)
Asy Syekh As’ad Bayudh At Tamimi menjelaskan dalam bukunya “Impian Yahudi dan Kehancurannya Menurut Al Qur’an” :
“Dan ayat-ayat di atas diisyaratkan bahwa kaum Muslimin akan memasuki
Masjid Al Aqsha seperti (nenek moyang mereka) pernah memasukinya dahulu
dengan kemenangan gilang-gemilang, dan akan menghancurleburkan semua
proyek keangkuhan Yahudi itu baik yang material maupun yang moral
spiritual.
Rasulullah SAW., bersabda :
“Belum akan tiba kiamat, hingga kaum Muslimin memerangi
kaum Yahudi, kemudian mereka diperangi oleh kaum Muslimin, sehingga batu
dan pohon berkata : Hai Muslim, hai hamba Allah! Inilah seorang Yahudi
bersembunyi di belakang ku, datangilah dan bunuhlah, kecuali pohon
Al-Ghorqad, karena ia tergolong pohon (simpatisan) kaum Yahudi.” (HR, Asy-Syaikhan : Al Bukhari dan Muslim)
Asy Syekh As’ad Bayudh At Tamimi kembali menjelaskan bahwa pohon Al
Gharqad itu terbilang pohon perdu yang bercabang-cabang, dewasa ini
banyak ditanam hampir di seluruh kawasan Palestina, dan hingga kini
penduduk An-Naqab di Palestina menamakannya pohon “Gharqad”, meskipun di
tempat-tempat lainnya di sana sudah berubah nama dan pohonan ini
ditanam oleh bangsa Yahudi sendiri.
Sebuah nubuwah lainnya diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir dari
Hudzaifah bin Yaman radliallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian,
adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki
untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak
kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH), adanya atas kehendak Allah.
Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.
Kemudian masa kerajaan yang menggigit (MULKAN ADLON), adanya atas
kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk
mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (MULKAN
JABARIYYAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia
menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti
jejak kenabian (KHILAFAH ‘ALAA MINHAJIN NUBUWWAH)”. Kemudian beliau
(Nabi) diam.” (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab
Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman
461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273).
Gelombang tsunami revolusi Islam yang telah menyapu Tunisia, disusul
Mesir, Yaman, Libia, dan seterusnya bisa jadi menandai kebenaran
ayat-ayat Allah dan nubuwah Rasulullah SAW, yakni dengan diterapkannya
kembali syariat Islam secara sempurna, tegaknya Khilafah Islam, dan
bangkitnya umat Islam secara global.
Di saat itulah, seluruh kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia,
khususnya mujahidin, melangkahkan kakinya dengan penuh semangat menuju
Al Aqsha untuk membebaskannya dari cengkraman tangan kotor
yahudi-zinois-Israel.
What next?
Syekh ‘Athiyatulloh Abu ‘Abdir Rohman, dalam artikelnya berjudul “Revolusi Bangsa dan Lengsernya Diktaktor Arab” mengatakan :
“Benar, revolusi ini tidaklah sempurna sebagaimana yang kita
harapkan. Akan tetapi hilangnya sebagian keburukan atau sebagian
besarnya, adalah sesuatu yang menggembirakan orang. Meskipun kita juga
berharap adanya langkah ini adalah pengantar untuk kebaikan yang akan
datang dan pembuka bagi pintu-pintu lainnya dengan izin Alloh.”
Dengan demikian, apapun awal dan akhirnya, gelombang revolusi Islam
yang terjadi di Timur Tengah tetap memercikan harapan besar bagi
perlawanan global kaum Muslimin di seluruh dunia.
Ummat Islam saat ini baik yang berada di Tunisia, Mesir, al-Jazair,
Libiya, Jordania, Yaman dan yang lainnya membutuhkan orang yang
mengingatkan mereka pada Alloh di hari-hari ini, mengingatkan mereka
dengan hari-hari Alloh dan sunnah-Nya, serta menjelaskan pada mereka
dengan lembut mengenai tempat-tempat yang penuh pelajaran dan hikmah
yang berfaedah. Dan ini adalah peran penting untuk para da’i (penyeru)
kepada Alloh, penuntut ilmu dan harokah-harokah/gerakan-gerakan islam.
Syekh ‘Athiyatullah menambahkan :
“Demikianlah Alloh telah menciptakan perumpamaan bagi manusia, dan
generasi muda pun bisa meneruskan aktivitas mereka di dunia kita yang
baru, meskipun ada berbagai usaha yang dikerahkan oleh pemerintahan
‘arob yang rusak untuk merusak para pemuda pada seluruh level dan juga
(usaha) untuk menidurkan mereka. Akan tetapi pemerintahan ‘arob itu
adalah pemerintahan yang bodoh tidak perhatian, serta lebih mirip orang
yang bernafsu. Sedangkan Rovolusi haruslah ada selama apapun masanya,
karena inilah sunnah kauniyyah (putaran alam) yang kita ketahui dari
sejarah, ilmu kemanusiaan, pengalaman dan perhitungan ilmu psikis dan
sosial yang simpel.
Karena sesungguhnya terkumpulnya kerusakan dengan model yang ada
dalam ummat dan masyarakat ‘arob islam kita, tidak mungkin terus eksis
dalam waktu yang sangat lama, hingga menjadikan ledakan yang dinyalakan
oleh apa yang Alloh tetapkan dan oleh orang yang Alloh siapkan, dan
kerja keras yang tidak dapat dihitung mengumpulkan mesiunya untuk
menghadapi kerusakan yang terakumulasi itu. Di antara para pemuda itu
ada yang baik dan ada yang tidak demikian. Sedangkan Alloh lebih
mengetahui apa yang dikerjakan oleh makhluq, apa yang mereka niatkan dan
apa yang mereka inginkan. Di antara mereka ada pula yang beruntung lagi
sukses di akhirat, dan di antara mereka ada yang jika diberitahukan
mengenai akhiratnya, tidak mendapatkan apapun kecuali kerugian dan
(kita) berlindung pada Alloh, akan tetapi semua keseriusan itu terkumpul
untuk melawan pemerintahan tiran itu.”
Faktanya, saat ini gelombang revolusi Islam di Timur Tengah mampu
menghilangkan penghalang terbesar antara mujahidin dengan pembebasan Al
Aqsa, yakni para penguasa tiran. Kini, setelah antek-antek Amerika dan
Israel tersebut tersingkirkan satu demi satu, maka jalan menuju futuhat
Al Aqsha semakin dekat.
Antek-antek Barat tengah berkemas pergi, isu Palestina kembali
semarak, khotbah-khotbah tentang jihad untuk membela ummat Islam akan
terdengar secara umum dalam masyarakat yang telah membebaskan dirinya
dari para tiran, dan diharapkan tindakan-tindakan keamanan bersenjata
berat yang ditimpakan oleh raja-raja lalim tersebut demi mengamankan
Amerika dan sekutunya serta untuk selalu meneror rakyatnya akan
berakhir.
Setelah itu, kita harus segera mempersiapkan diri dan mengukur segala
kemampuan. Hal ini sebagaimana yang dinasehatkan oleh Syekh
‘Athiyatullah “
“Hendaknya kita mengetahui kadar (kemampuan) kita semua, dan
hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam ta’wun di atas kebaikan,
ketaqwaan dan jihad di jalan Alloh. Semua (bermula) dari tempatnya dan
dengan apa yang dia mampu serta dengan apa yang sesuai dalam haknya.
Sedangkan Alloh akan membuka dan menurunkan kelapangan dan pertolongan
dengan kejujuran orang-orang yang jujur, ketulusan orang-orang yang
ikhlash dan doanya orang-orang lemah yang dikalahkan.”
Gelombang revolusi Islam tengah berlangsung di Timur Tengah dan akan
melanda seluruh dunia menuju satu fokus utama yakni membebaskan (futuhat) Al Aqsha. Dari sini kita memulai di Al Aqsha kita bertemu.
“Ya Allah ijinkanlah kami bertemu di al-Aqsha,”
Wallahu’alam bis showab!