
Jumpa pers tersebut dilakukan
setelah Marty didampingi Duta Besar RI untuk Mesir A.M. Fachir bertemu
dengan Perdana Menteri Mesir Essam Sharaf dan timpalannya, Menlu Mesir
Nabil Al Arabi.
Menurut Marty, pemerintah Indonesia
memprioritaskan pembebasan para sandera WNI tersebut melalui berbagai
jalur kontak dengan berbagai pihak.
"Kontak-kontak yang kita
lakukan itu sebagiannya diumumkan di media massa dan beberapa
perundingan dengan pihak-pihak terkait lainnya dilakukan secara rahasia
dengan prioritas penyelamatan WNI tersebut," katanya.
Pemerintah terus menjalin komunikasi dengan pemilik kapal dan akan
terus berupaya untuk memastikan pembebasan dengan selamat terhadap
mereka, katanya.
Kapal Sinar Kudus bermuatan bijih nikel dibajak
dan disandera oleh perompak Somalia di perairan Laut Arab saat
pelayaran dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara menuju Rotterdam, Belanda,
pada 16 Maret 2011 lalu.
Sebanyak 20 dari 31 anak buah kapal (ABK) naas tersebut adalah WNI.
Operasi
penyelamatan awak kapal MV Sinar Kudus memang bukan hal mudah.
Diperlukan perhitungan yang matang untuk menghindari jatuhnya korban.
“Namun kalau informasi intelejennya akurat, saya kira cukup tiga menit,”
ujar mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana (Purn.) Bernard
Ken Sondakh terkait kemampuan personel Angkatan Laut membebaskan
pembajakan.
Puluhan awak kapal NV Sinar Kudus dibajak dan
disandera kawanan perompak Somalia sejak 16 Maret lalu. Kawanan
perompak meminta tebusan sejumlah uang. Tebusan yang mulanya diminta
senilai US$ 2,6 juta, terus meningkat seiring respon pihak Indonesia
yang tak kunjung memenuhi. Meski telah berlangsung selama hampir satu
bulan, pemerintah Indonesia hingga kini belum secara tegas menyatakan
sikap terkait opsi penyelamatan. Opsi yang sedang dipertimbangkan
adalah negosiasi uang tebusan atau operasi militer.
Menurut
Bernard, informasi intelejen dapat diperoleh melalui berbagai sumber
dengan dukungan peralatan yang memadai. Beberapa di antaranya dapat
digali dari para sandera, memantau melalui helikopter dan mengenali
struktur kapal
“Tugas ini memang tidak mudah. Yang dihadapi saat
ini bukan ancaman di darat. Petugas harus mengenali sasaran operasinya
dengan akurat tentang jumlah dan posisi para perompak, jenis senjata
yang mereka gunakan serta keberadaan para sandera,” ujar Bernard.
Keterangan
yang dihimpun Tempo menyebut para sandera dikumpulkan di anjungan
kapal dengan pengawasan ketat sekitar 35 perompak yang dilengkapi
senjata laras panjang. Para perompak
mengawasi aktivitas mereka, bahkan untuk urusan ke kamar kecil.
Dengan
kondisi seperti itu, kata Bernard, operasi penyelamatan tidak bisa
dilakukan dengan jumlah yang sebanding. “Bisa saja berlipat lima,”
katanya. Namun ia mengakui operasi yang tidak tepat dapat menimbukan
dampak bagi para sandera. “Ada resiko mereka (perompak) mengamuk,”
ujarnya.
Keberhasilan TNI terukir manis ketika mereka
menyelamatkan kapal tanker Pertamina yang disandera kelompok GAM di
perairan Selat Malaka pada tahun 2003. “Kami berhasil melumpuhkan
perompak. Meski ada personil kami yang terluka di bagian kaki dan
tangan,” ujarnya.