TNI Sesumbar Selamatkan Sandera Somalia Hanya Butuh 3 Menit

Written By Juhernaidi on Jumat, 15 April 2011 | 8:31:00 AM

Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa mengatakan pihaknya akan bertemu dengan Menlu Somalia Mohamed Abdullah Omaar di Dubai, Uni Arab Emirat awal pekan depan untuk memecahkan krisis warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini disandera perompak Somalia. (foto: Google)
JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa mengatakan pihaknya akan bertemu dengan Menlu Somalia Mohamed Abdullah Omaar di Dubai, Uni Emirat Arab awal pekan depan untuk memecahkan krisis warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini disandera perompak Somalia. "Saya dan Menlu Somalia akan bertemu di Dubai pada Senin (18/4) depan untuk mencari jalan keluar membebaskan WNI yang disandera," kata Marty dalam jumpa pers di KBRI Kairo.

Jumpa pers tersebut dilakukan setelah Marty didampingi Duta Besar RI untuk Mesir A.M. Fachir bertemu dengan Perdana Menteri Mesir Essam Sharaf dan timpalannya, Menlu Mesir Nabil Al Arabi.

Menurut Marty, pemerintah Indonesia memprioritaskan pembebasan para sandera WNI tersebut melalui berbagai jalur kontak dengan berbagai pihak.

"Kontak-kontak yang kita lakukan itu sebagiannya diumumkan di media massa dan beberapa perundingan dengan pihak-pihak terkait lainnya dilakukan secara rahasia dengan prioritas penyelamatan WNI tersebut," katanya.

Pemerintah terus menjalin komunikasi dengan pemilik kapal dan akan terus berupaya untuk memastikan pembebasan dengan selamat terhadap mereka, katanya.

Kapal Sinar Kudus bermuatan bijih nikel dibajak dan disandera oleh perompak Somalia di perairan Laut Arab saat pelayaran dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara menuju Rotterdam, Belanda, pada 16 Maret 2011 lalu.

Sebanyak 20 dari 31 anak buah kapal (ABK) naas tersebut adalah WNI.

Operasi penyelamatan awak kapal MV Sinar Kudus memang bukan hal mudah. Diperlukan perhitungan yang matang untuk menghindari jatuhnya korban. “Namun kalau informasi intelejennya akurat, saya kira cukup tiga menit,” ujar mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana (Purn.) Bernard Ken Sondakh terkait kemampuan personel Angkatan Laut membebaskan pembajakan.

Puluhan awak kapal NV Sinar Kudus dibajak dan disandera kawanan perompak Somalia sejak 16 Maret lalu. Kawanan perompak meminta tebusan sejumlah uang. Tebusan yang mulanya diminta senilai  US$ 2,6 juta, terus meningkat seiring respon pihak Indonesia yang tak kunjung memenuhi. Meski telah berlangsung selama hampir satu bulan, pemerintah Indonesia hingga kini belum secara tegas menyatakan sikap terkait opsi penyelamatan. Opsi yang sedang dipertimbangkan adalah negosiasi uang tebusan atau operasi militer.

Menurut Bernard, informasi intelejen dapat diperoleh melalui berbagai sumber dengan dukungan peralatan yang memadai. Beberapa di antaranya dapat digali dari para sandera, memantau melalui helikopter dan mengenali struktur kapal

“Tugas ini memang tidak mudah. Yang dihadapi saat ini bukan ancaman di darat. Petugas harus mengenali sasaran operasinya dengan akurat tentang jumlah dan posisi para perompak, jenis senjata yang mereka gunakan serta keberadaan para sandera,” ujar Bernard.

Keterangan yang dihimpun Tempo menyebut para sandera dikumpulkan di anjungan kapal dengan pengawasan ketat sekitar 35 perompak yang dilengkapi senjata laras panjang. Para perompak
mengawasi aktivitas mereka, bahkan untuk urusan ke kamar kecil.

Dengan kondisi seperti itu, kata Bernard, operasi penyelamatan tidak bisa dilakukan dengan jumlah yang sebanding. “Bisa saja berlipat lima,” katanya. Namun ia mengakui operasi yang tidak tepat dapat menimbukan dampak bagi para sandera. “Ada resiko mereka (perompak) mengamuk,” ujarnya.

Keberhasilan TNI terukir manis ketika mereka menyelamatkan kapal tanker Pertamina yang disandera kelompok GAM di perairan Selat Malaka pada tahun 2003. “Kami berhasil melumpuhkan perompak. Meski ada personil kami yang terluka di bagian kaki dan tangan,” ujarnya.

Simulasi Jangka Sorong