TRIPOLI – Pasukan militer yang disebarkan di Libya
oleh AS dan rekan-rekannya mengecewakan beberapa negara Afrika di
samping adanya kekhawatiran yang menyebar luas di komunitas
internasional atas pertahanan Moammar Gaddafi terhadap rakyatnya
sendiri, panglima papan atas AS untuk benua tersebut mengatakan pada
Kongres.
Jenderal Careter Ham, Panglima Komando AS di Afrika, menggambarkan
reaksi campuran dari Uni Afrika untuk serangan-serangan udara dan
penerapan zona larangan terbang di atas Libya, dan kepentingannya untuk
menjelaskan pentingnya tindakan cepat untuk negara-negara yang sedang
gelisah. Komentar-komentarnya datang ketika militer AS secara drastis
memotong jumlah pasukan angkatan udara dan angkatan laut yang melakukan
operasi tersebut, sekarang berada di bawah kendali NATO.
"Sejujurnya, saya pikir ketika kita melangsungkan proses tersebut
saya akan harus memiliki tanggung jawab, ketika saya terlibat dengan
rekan-rekan Afrika kami, untuk memiliki sebuah pembahasan yang sangat
jujur tentang apa peranan Komando AS di Afrika dan mengapa kami
melakukan apa yang kami lakukan dan saya sebisa mungkin hanya bersikap
jujur dan berterus terang," Ham mengatakan kepada Dewan Komite Angkatan
Bersenjata.
Ia menambahkan: "Ada sebuah dampak dan akan ada sebuah dampak di dalam kawasan tersebut."
Perang di Libya memasuki pekan ketiganya dengan tidak ada akhiran
dalam pandangan dan semakin tumbuhnya frustasi di seluruh kawasan
tersebut. Pimpinan Uni Afrika, Presiden Guinea Khatulistiwa, Teodoro
Obiang Nguema, menunjukkan dukungannya untuk Gaddafi dan menuntut untuk
mengakhiri campur tangan asing ke dalam apa yang ia sebut dengan sebuah
masalah internal Libya.
Para pemberontak Libya mengkritisi NATO
dengan Abdel-Fattah Younis, pimpinan staf untuk militer pemberontak dan
mantan menteri dalam negeri Gaddafi, bersikeras bahwa pasukan NATO
"tidak melakukan apapun" walaupn mereka memiliki sebuah mandat PBB untuk
bertindak.
"Walaupun intervensi kemanusiaan ini termotivasi oleh sebuah dorongan
mulia, ada sebuah kemungkinan yang kuat dari sebuah jalan buntu yang
strategis yang muncul di Libya," kata Republikan Howard "Buck" McKeon,
pimpinan Komite Angkatan Bersenjata. "Saya takut kita kemungkinan
menemukan diri kita sendiri berkomitmen pada sebuah kewajiban yang tidak
ada akhirnya melalui partisipasi kita di operasi NATO."
Secara diplomatis, duta pemerintahan Obama untuk oposisi Libya berada
di dalam benteng kuat pemberontak Benghazi untuk pembicaraan dengan
mereka yang memimpin revolusi terhadap Gaddafi, menurut Departemen Luar
Negeri.
Duta tersebut, Chris Stevens, bertemu dengan para anggota Dewan
Transisi Nasional Libya untuk mendapatkan sebuah gagasan yang lebih baik
tentang siapa mereka, apa yang mereka inginkan dan apa kemampuan dan
kebutuhan mereka, juru bicara departemen Luar Negeri Mark Toner
mengatakan. Kunjungan Stevens dapat membuka jalan untuk pengakuan AS
atas dewan tersebut sebagai pemerintahan sah Libya, walaupun tidak ada
keputusan dalam waktu dekat, Toner mengatakan.
Stevens adalah orang Nomor 2 di dalam Kedutaan AS di Tripoli sampai
misi tersebut ditutup pada bulan Februari di tengah-tengah kekerasan
yang semakin meningkat. Ia akan membahas bantuan kemanusiaan dan
kemungkinan keuangan untuk oposisi tersebut, Toner mengatakan.
Tiga negara, termasuk sekutu NATO, Perancis dan Italia, bersamaan
dengan Qatar, telah mengakui dewan transisi sebagai perwakilan sah
rakyat Libya, namun AS masih belum mengikutinya. AS juga belum membuat
sebuah keputusan tentang apakah akan mempersenjatai pemberontak.
Secara militer, pasukan AS terlibat di dalam operasi tersebut telah
secara besar-besaran berkurang sejak serangan pertama pada 19 Maret.
Hanya tiga kapal perang Angkatan Laut dan sebuah kapal persediaan
yang masih ada untuk operasi tersebut, dibanding dengan 11 kapal di sana
ketika intervensi dimulai, dua pejabat pertahanan mengatakan pada hari
Selasa. Para pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonimitas karena
mereka tidak diwenangkan untuk melakukan perilisan data.
Kapal perang tersebut adalah USS Kearsarge, USS Ponce dan penghancur USS Barry.
Di anatara semuanya yang tidak lagi berpartisipasi di dalam misi
Libya adalah dua kapal selam, penghancur USS Stout dan Mount Whitney,
yang telah bertindak sebagai sebuah pos komando pengapungan untuk
laksamana Amerika yang berada di lokasi sampai NATO mengambil alih pada
Kamis.
Ada 90 pesawat AS yang masih ditugaskan untuk misi Libya. Satu pekan
lalu, ada 170 pesawat, termasuk 70 pesawat penyerang, para pejabat
tersebut mengatakan.
Juru bicara Pentagon Geoff Morrell, menanyakan apakah pasukan operasi
khusus akan digunakan di Libya untuk pelatihan pasukan oposisi atau
misi yang lainnya, Presiden Barack Obama mengatakan dengan jelas bahwa
tidak akan ada pasukan yang turun ke medan tersebut.
Pasukan operasi khusus bagaimanapun juga, telah digunakan di negara lainnya di bawah otoritas agen intelijen AS.
Sementara itu, menteri Angkatan Udara mengatakan pada hari Selasa
bahwa dinas tersebut telah menghabiskan sekitar $4 juta dalam satu hari
untuk tetap membuat 50 pesawat jet dan hampir 40 pesawat dukungan di
dalam konflik Libya, termasuk biaya amunisi.
Menteri Michael Donley mengatakan kepada para reporter bahwa Angkatan
Udara telah menghabiskan $75 juta pada Selasa pagi untuk perang
tersebut. Ia mengatakan bahwa keputusan AS untuk mengakhiri peranan
serangan tempur di dalam konflik tersebut akan memotong biaya, namun ia
tidak dapat mengatakan berapa banyak.
Ia mengatakan bahwa Angkatan Udara telah menghabiskan hampir $50 juta
pada upaya bantuan untuk gempa Jepang, termasuk $40 juta untuk
mengevakuasi antara 5.000 sampai 6.000 personil AS. Jumlah keseluruhan
biaya AS untuk kampanye udara Libya sampai 28 Maret adalah $550 juta,
tidak menghitung pengeluaran penugasan normal.
Kemarahan Kongresional atas Libya telah secara luas merisaukan. Senat
kembali pada sebuah upaya oleh Senator Republikan Rand Paul untuk
membatasi seorang laksamana yang memiliki kewenangan. Gerakan tersebut
gagal pada sebuah pemilihan prosedur, 90-10 suara. Secara terpisah,
Senator Demokrat John Kerry mengatakan bahwa sebuah resolusi di Libya
tidak memungkinkan pada pekan ini.