
Sersan
Sadiq Musrati memberi pengarahan para anggota baru kelompok
pemberontak, sebagian besar adalah relawan pemuda, di bekas pangkalan
angkatan darat Libya, pinggiran kota Benghazi. Masa depan pasukan
pemberontak sekarang berada di tangan seorang
pria tua ompong, 57 tahun.
(Foto: Telegraph)
TRIPOLI – Masa depan pasukan pemberontak sekarang
berada di tangan seorang pria tua ompong berusia 57 tahun dan
rekan-rekan instruktur veteran militernya.
Sersan Sadiq Musrati telah berada di angkatan darat Libya selama 20 tahun ketika banyak dari murid-muridnya baru dilahirkan.
Namun telah pensiun enam tahun lalu, kakek dari empat cucu tersebut
sekarang diberikan tugas untuk membantu mengubah sebuah kelompok milisi
pemuda yang sulit dikendalikan menjadi sebuah pasukan yang mampu
menjatuhkan tank-tank Kolonel Moammar Gaddafi.
Ketika barisan depan perang sipil masih buntu di dekat kota minyak
Brega, dewan pemebrontak telah melipatgandakan kembali upaya untuk
melatih kelompok relawan muda yang kacau untuk sebuah perjuangan yang
terus berlanjut.
Sebuah pasukan pertempuran yang kredibel akan juga membantu
meyakinkan dunia luar untuk melengkapi mereka dengan senjata dan amunisi
yang sangat mereka butuhkan, para komando pemberontak meyakini.
"Mereka semua seperti seorang anak laki-laki yang baik," Sersan
Musrati mengatakan dengan bangga ketika menyurvei kelasnya yang terdiri
dari 40 siswa, berpakaian serampangan, dari jubah Arab dan kaos dan
jins.
Sebagian besar relawan muda tersebut berusia di awal 20 tahunan,
sedikit dari mereka anggota baru yang lebih tua termasuk seorang
pedagang dan guru geografi.
"Mereka telah memiliki keinginan untuk bertempur, itulah hal yang
paling penting," Sersan Musrati memulai pekerjaannya di Benghazi pada
Senin di lahan sebuah pangkalan angkatan darat yang luas yang diduduki
sampai enam pekan yang lalu oleh pasukan Kolonel Gaddafi.
Ia adalah salah satu dari puluhan veteran yang akan melatih sampai
1.200 anggota baru di pangkalan tersebut pada satu waktu menurut seorang
juru bicara untuk Dewan Transisi Nasional pemberontakan.
Mengangkat AK-47 di pundaknya dan menekuk lututnya, ia menjelaskan
bagaimana mengarahkan sebuah target di dalam pandangannya ketika
murid-murid di kelasnya duduk dan menyaksikan.
Bagaimanapun juga, para muridnya harus menggunakan imajinasinya
karena banyak senjata yang dibutuhkan di barisan depan, ia memegang
satu-satunya senapan di kelas tersebut.
"Murid-murid ini adalah para penduduk sipil yang normal. Mereka belum
pernah menembakkan sebuah senjatapun. Namun dalam dua atau tiga hari
mereka dapat berangkat dan mengetahui bagaimana menggunakan sebuah
Kalashnikov (AK-47)," Sersan Musrati mengatakan.
Setelah serangkaian kemacetan dan penarikan yang kacau, komando
militer pemberontakan telah memerintahkan para relawan yang tak terlatih
untuk menjauh dari barisan depan.
Mereka semua yang berharap untuk bertempur sekarang harus dilatih dan ditugaskan pada sebuah satuan tugas.
Setiap pemberontak menerima antara dua dan empat minggu pelatihan sebelum diperbolehkan untuk bergabung dalam upaya militer.
"Pada awalnya, semua pria muda tersebut antusias dan hanya
menginginkan untuk pergi ke barisan depan," Sersan Musrati, yang
bergabung pada tahun 1970, mengatakan.
"Kemudian dewan memerintahkan bahwa mereka harus berlatih sebelum
mereka pergi ke barisan depan, sehingga mereka dapat lebih
terorganisir." Di tempat lain di lahan parade, para murid berjubel-jubel
untuk pelajaran seputar senapan anti-pesawat dan peluncur roket kecil
yang membentuk satu-satunya persenjataan berat para pemberontak.
Bagaimanapun juga, ketika Sersan Musrati memuji semangat moral dan
semangat membela diri dari orang-orangnya, Salah Kamel, yang mengajar
Geografi di sebuah sekolah menengah Benghazi sampai pemberontakan,
kurang yakin akan rekan-rekannya.
"Melihat sekeliling, saya tidak dapat melihat semua orang ini melaju
ke barisan depan," ia mengatakan, merokok sebuah rokok selama istirahat.
"Merupakan tugas saya untuk bertempur, namun saya pikir banyak yang
telah hanya datang untuk melihat-lihat. Mungkin 75 persen dari mereka
serius."
"Instruktur kami dapat memilih siapa yang serius dan siapa yang akan
dikirim ke barisan depan." Walaupun hanya berusia 18 tahun, dan nampak
jauh lebih muda, Abdul Karim Yousef mengatakan komitemennya tidak dapat
disangkal.
"Saya datang dengan beberapa teman beberapa pekan lalu, namun mereka telah menyerah.
"Saya tidak akan menyerah, saya bergabung supaya kami dapat membalaskan dendam pada para penindas kami," ia mengatakan.