
Menteri
Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menyatakan terkejut dan
miris mengetahui ada anggota DPRI RI yang membuka gambar porno saat
sedang mengikuti rapat paripurna di Gedung DPR RI. (foto: Matanews.com)
JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika
Tifatul Sembiring menyatakan terkejut dan miris mengetahui ada anggota
DPRI RI yang membuka gambar porno saat sedang mengikuti rapat paripurna
di Gedung DPR RI.
Tifatul menyatakan akan segera memerintahkan stafnya untuk mengusut
asal-usul gambar porno yang dibuka seorang anggota DPR dengan iPad-nya
ketika sidang Paripurna DPR tengah berlangsung, Jumat siang.
"Saya akan segera perintahkan staf untuk melacak asal usul gambar porno
itu. Dari mana sumber asal usulnya, kita bisa lacak itu," kata Tifatul
dalam siaran pers Kemenkominfo yang diterima Kantor Berita ANTARA Jumat
malam.
Tifatul terkejut dan merasa miris dengan kasus yang
menimpa anggota DPR, yang tertangkap kamera wartawan tengah membuka
gambar "tak pantas" itu ketika sidang Paripurna DPR berlangsung, kata
siaran pers itu.
Saat beberapa wartawan bertanya soal itu, wajah Tifatul yang sedang dalam kunjungan kerja di kota Palembang tampak kaget.
Tifatul menyayangkan hal ini terjadi, sebab hal tersebut sudah menjadi
sorotan serius dari masyarakat, dan dikhawatirkan bisa menambah citra
negatif bagi DPR.
Tifatul juga mengingatkan agar semua pihak
taat aturan, bahwa Undang-undang ITE memberikan ancaman 6 hingga 12
tahun bagi penyebar konten porno di Internet.
"Menurut
pengakuan anggota DPR yang bersangkutan, dia dikirimi email, pas dibuka
ternyata konten porno, langsung dihapus. Nah, Kita bisa selidiki, jika
yang bersangkutan dikirimi, berarti beliau korban. Tapi kalau aktif
mencari-cari berarti dia salah," pungkas Tifatul.
Menkominfo
tidak mau berspekulasi mengenai kemungkinan adanya upaya jebakan
politik, meski ia mengakui hal itu bisa saja terjadi, namun Kemenkominfo
tidak akan masuk ke ranah itu.
Tifatul kembali menegaskan bahwa ia tidak akan berhenti mengampanyekan konten positif bagi pengguna Internet.
"Kuncinya adalah di masyarakat pengguna sendiri, harus ada kesadaran
untuk menggunakan internet untuk hal-hal positif. Meskipun 90 persen
lebih konten porno sudah diblokir, tapi namanya teknologi tentu bisa diakali. Jadi masyarakat sendiri harus sadar," tutup Tifatul.