Paris - Para ketua atau wakil dari 61 suku di
berbagai penjuru Libya hari Rabu mendesak diakhirinya kekuasaan Moamer
Kadhafi. Mereka mengatakan hal itu dalam sebuah pernyataan bersama yang
disiarkan oleh penulis Prancis Bernard-Henri Levy.
"Menghadapi ancaman-ancaman yang membebani persatuan negara kami,
manuver dan propaganda diktator dan keluarganya, kami dengan ini
mengumumkan: Tidak ada yang bisa memecah-belah kami," kata teks itu,
yang dirancang di Benghazi pada 12 April.
"Kami sama-sama mendambakan Libya yang bebas, demokratis dan bersatu," katanya.
"Libya esok, jika diktator telah pergi, akan menjadi sebuah Libya
yang bersatu, dengan Tripoli sebagai ibu kotanya dan dimana kami pada
akhirnya bisa membangun masyarakat sipil menurut keinginan kami
sendiri," katanya.
Levy, seorang intelektual terkenal di Prancis, menjadi juru
bicara tidak resmi bagi pemberontak Libya di Paris dan berhasil
mendorong Presiden Nicolas Sarkozy menggalang dukungan militer dan
politik internasional bagi kelompok pemberontak.
Ia mengatakan kepada AFP, pernyataan itu dipersiapkan di markas
pemberontak di Benghazi, Libya timur, namun diedarkan di seluruh penjuru
negeri, dan kini didukung oleh banyak pemimpin suku berpengaruh di
daerah-daerah dimana Kadhafi masih memegang kendali kekuasaan.
Levy menerbitkan pernyataan itu di situs berita majalahnya, La
Regle du Jeu, yang juga mencakup tanda tangan asli dalam bahasa Arab.
"Kami, orang Libya, membentuk satu suku tunggal yang bersatu --
suku orang Libya bebas, yang memerangi penindasan dan kejahatan
memecah-belah," kata teks yang diterjemahkan dalam bahasa Prancis itu.
Sejumlah pemimpin Barat juga mendesak Kadhafi mengundurkan diri di tengah pemberontakan mematikan terhadap pemerintahnya.
Kadhafi (68) adalah pemimpin terlama di dunia Arab dan telah
berkuasa selama empat dasawarsa. Kadhafi bersikeras akan tetap berkuasa
meski ia ditentang banyak pihak.
Libya kini digempur pasukan internasional sesuai dengan mandat PBB yang disahkan pada 17 Maret.
Resolusi 1973 DK PBB disahkan ketika kekerasan dikabarkan terus
berlangsung di Libya dengan laporan-laporan mengenai serangan udara oleh
pasukan Moamer Kadhafi, yang membuat marah Barat.
Lebih dari 100 jet tempur dan pesawat pendukung NATO saat ini
telah dikerahkan untuk menggempur Libya, serta selusin kapal perang yang
semuanya beroperasi di bawah komando NATO.
Selama beberapa waktu hampir seluruh wilayah negara Afrika utara
itu terlepas dari kendali Kadhafi setelah pemberontakan rakyat meletus
di kota pelabuhan Benghazi pada pertengahan Februari. Namun, kini
pasukan Kadhafi dikabarkan telah berhasil menguasai lagi daerah-daerah
tersebut.
Ratusan orang tewas dalam penumpasan brutal oleh pasukan
pemerintah dan ribuan warga asing bergegas meninggalkan Libya pada pekan
pertama pemberontakan itu.
Aktivis pro-demokrasi di sejumlah negara Arab, termasuk Libya,
terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan Mesir yang berhasil
menumbangkan pemerintah yang telah berkuasa puluhan tahun.