Perubahan iklim memberikan tekanan yang lebih besar terhadap kondisi sumber daya air (SDA) Pulau Jawa, kata peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Heru Santoso di Bandung, Senin (13/12). "Perubahan iklim memberikan dampak yang cukup penting terhadap kondisi neraca air di Pulau Jawa," kata Heru dalam paparan penelitiannya pada Seminar Nasional Sains Atmosfer I 2010 di Bandung.
Meskipun dari permodelan yang terihat menunjukkan rata-rata curah hujan mengalami penurunan yang sedikit, kata dia, namun kenaikan suhu rata-rata mendorong lebih banyak evapotranspirasi. Akibatnya, air limpasan cenderung berkurang dan defisit air terjadi lebih besar. "Khususnya di wilayah Jawa Timur berkurangnya air limpasan dan kenaikan defisit air tampak lebih jelas daripada daerah Jawa lainnya," katanya.
Dalam penelitiannya, Heru menyebutkan, kenaikan suhu rata-rata global satu derajat Celcius menyebabkan perubahan kenaikan suhu rata-rata di Pulau Jawa bervariasi antara 0,80 derajat Celcius hingga 1,03 derajat Celcius dengan rata-rata sekitar 0,87 derajat Celcius sehingga menaikan evaporasi. "Berdasarkan perhitungan model penelitian yang kami pilih, terjadi kenaikan evaportranspirasi potensial antara 9,5 persen di bulan Juni hingga 11,8 persen pada November 2010. Secara spasial perubahan evaportranspirasi paling tinggi terjadi di wilayah dataran rendah seperti di kawasan Pantura Jawa," kata Heru.
Dari hasil analisa spasial terlihat ada rata-rata air limpasan tahunan mengalami perubahan yang bervariasi. Pengurangan jumlah air limpasan terbesar di Jawa Timur dan Pulau Madura, dimana wilayah perbukitan cenderung mengalami penurunan air limpasan yang lebih sedikit.
Analisa spasial juga memperlihatkan bahwa defisit air terbesar terjadi di wilayah Jatim dan Pantai Utara. Di wilayah sekitar Situbondo Jatim kenaikan defisit air tahunan air dapat mencapai hingga 500 milimeter per tahun. "Sedangkan wilayah pegunungan Jabar relatif mengalami peningkatan defisit tahunan," kata Heru Santoso.
Aktivitas manusia yang melepas gas rumah kaca khususnya sejak revolusi industri 1850 diyakini berperan dalam mempercepat proses perubahan iklim secara global. Perubahan iklim yang disebabkan akibat aktivitas manusia akan terus terjadi hingga beberapa dekade ke depan meski seluruh emisi gas rumah kaca dihentikan karena sistem iklim bersifat `inert` atau 'lembam'. "Perubahan iklim memberi banyak dampak pada berbagai sektor antara lain air, ekosistem, pangan, wilayah pantai dan kesehatan," katanya.
Heru Santoso menyebutkan, Pulau Jawa merupakan salah satu pulau penting di Indonesia dimana memiliki lima kota penting serta dihuni oleh 124 juta penduduk atau sekitar 50 persen dari penduduk Indonesia. Pulau Jawa merupakan daerah utama kegiatan ekonomi Indonesia seperti industri, pertanian, usaha jasa dan perdagangan sehingga memberikan tekanan tinggi pada sumber daya alam termasuk air. "Pembangunan yang ada akan terhambat atau terancam tidak berkelanjutan bila keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air tidak diperhatikan," kata peneliti dari Puslit Geoteknologi LIPI itu menambahkan.
Meskipun dari permodelan yang terihat menunjukkan rata-rata curah hujan mengalami penurunan yang sedikit, kata dia, namun kenaikan suhu rata-rata mendorong lebih banyak evapotranspirasi. Akibatnya, air limpasan cenderung berkurang dan defisit air terjadi lebih besar. "Khususnya di wilayah Jawa Timur berkurangnya air limpasan dan kenaikan defisit air tampak lebih jelas daripada daerah Jawa lainnya," katanya.
Dalam penelitiannya, Heru menyebutkan, kenaikan suhu rata-rata global satu derajat Celcius menyebabkan perubahan kenaikan suhu rata-rata di Pulau Jawa bervariasi antara 0,80 derajat Celcius hingga 1,03 derajat Celcius dengan rata-rata sekitar 0,87 derajat Celcius sehingga menaikan evaporasi. "Berdasarkan perhitungan model penelitian yang kami pilih, terjadi kenaikan evaportranspirasi potensial antara 9,5 persen di bulan Juni hingga 11,8 persen pada November 2010. Secara spasial perubahan evaportranspirasi paling tinggi terjadi di wilayah dataran rendah seperti di kawasan Pantura Jawa," kata Heru.
Dari hasil analisa spasial terlihat ada rata-rata air limpasan tahunan mengalami perubahan yang bervariasi. Pengurangan jumlah air limpasan terbesar di Jawa Timur dan Pulau Madura, dimana wilayah perbukitan cenderung mengalami penurunan air limpasan yang lebih sedikit.
Analisa spasial juga memperlihatkan bahwa defisit air terbesar terjadi di wilayah Jatim dan Pantai Utara. Di wilayah sekitar Situbondo Jatim kenaikan defisit air tahunan air dapat mencapai hingga 500 milimeter per tahun. "Sedangkan wilayah pegunungan Jabar relatif mengalami peningkatan defisit tahunan," kata Heru Santoso.
Aktivitas manusia yang melepas gas rumah kaca khususnya sejak revolusi industri 1850 diyakini berperan dalam mempercepat proses perubahan iklim secara global. Perubahan iklim yang disebabkan akibat aktivitas manusia akan terus terjadi hingga beberapa dekade ke depan meski seluruh emisi gas rumah kaca dihentikan karena sistem iklim bersifat `inert` atau 'lembam'. "Perubahan iklim memberi banyak dampak pada berbagai sektor antara lain air, ekosistem, pangan, wilayah pantai dan kesehatan," katanya.
Heru Santoso menyebutkan, Pulau Jawa merupakan salah satu pulau penting di Indonesia dimana memiliki lima kota penting serta dihuni oleh 124 juta penduduk atau sekitar 50 persen dari penduduk Indonesia. Pulau Jawa merupakan daerah utama kegiatan ekonomi Indonesia seperti industri, pertanian, usaha jasa dan perdagangan sehingga memberikan tekanan tinggi pada sumber daya alam termasuk air. "Pembangunan yang ada akan terhambat atau terancam tidak berkelanjutan bila keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air tidak diperhatikan," kata peneliti dari Puslit Geoteknologi LIPI itu menambahkan.