Di tengah hiruk pikuk politik hukum dalam negeri yang tak pasti bahkan
cenderung mengecewakan, sejumlah anak bangsa justru mengukir prestasi di
dunia Internasional. Mereka mampu membangkitkan kembali semangat
optimisme dan cinta Indonesia.
Putera-puteri kebanggaan Indonesia ini untuk kesekian kalinya menjadi
juara dalam ajang kompetisi olimpiade fisika tingkat Asia dan Australia.
Menggungguli lawan-lawan tangguh seperti China, India, dan Singapura,
para pelajar Indonesia justru merebut predikat sebagai The Absolute
Winner Asian Physics Olympiad ke-14.
"Ini impian Tim Olimpiade Fisika Indoensia (TOFI) selama 14 tahun untuk
merebut gelar 'The Absolute Winner APhO', akhirnya kita bisa
menumbangkan China di APhO," ujar Ketua Panitia Asian Physics Olympiad
(APhO) 2013, Dr Hendra Kwee kepada detikcom, Minggu (12/5/2013).
Hendra mengatakan APhO adalah olimpiade fisika dengan tingkat kesulitan
yang sangat tinggi dibandingkan dengan olimpiade sejenis seperti
International Physics Olympiad (IPhO). Siswa peraih 'The Absolute Winner
APhO' tahun ini adalah Himawan Wicaksono. Siswa SMA Katolik Santo
Albertus Malang ini juga meraih penghargaan sebagai The best
Experimental Result.
"Sebagai tuan rumah, prestasi tim Indonesia sangat membanggakan karena
salah seorang siswa Indonesia yaitu Himawan Wicaksono Winarto memperoleh
skor total terbaik 'The Absolute Winner'. Himawan juga mendapatkan
penghargaan khusus untuk nilai eksperimen terbaik 'The Best
Experiment'," imbuhnya.
Adapun nilai teori terbaik diperoleh oleh Bo Chen dari China. Indonesia
pernah meraih The Absolute Winner di ajang IPhO di Singapura pada tahun
2006.
Selain Himawan, siswa Indonesia lainnya yang juga meraih penghargaan
adalah Josephine Monica. Siswi SMAK Penabur Gading Serpong ini meraih
predikat 'The Best Female Participant'.
Secara umum, Hendra mengatakan Indonesia meraih 2 emas, 2 perak, 2
perunggu dan 2 penghargaan khusus pada APhO ke 14 ini. Olimpiade ini
digelar di Bogor, Jawa Barat sejak 5 hingga 13 Mei 2013 yang diikuti
oleh 146 peserta dari 20 negara Asia dan Australia.
Indonesia diwakili oleh 8 siswa dari berbagai Provinsi. Dua emas diraih
Himawan Wicaksono Winarto (SMA Katolik Santo Albertus Malang), dan
Josephine Monica (SMAK Penabur Gading Serpong). Dua perak diraih Kristo
Nugraha Lian (SMAK Penabur Gading Serpong) dan Aryani Paramita (SMAK 3
Penabur Jakarta). Dua perunggu diraih Andramica Priastyo (SMA Taruna
Nusantara Magelang) dan Justian Harkho (SMA Katolik Santu Petrus
Pontianak). Dua penghargaan khusus diraih oleh Ryan Vitalis Kartiko (SMA
Katolik Rajawali Makassar) dan Fidiya Maulida (SMAN 1 Pamekasan).
Mereka mendapatkan pelatihan secara intensif selama 8 bulan di Sekolah
Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya.