JAKARTA - Fenomena unik mewarnai dunia pendidikan
Indonesia. Di satu sisi banyak sekali prestasi yang ditunjukkan oleh
anak-anak Indonesia dalam dunia ilmu pengetahuan.
Mereka acapkali
menjuarai berbagai kompetisi dan olimpiade ilmu eksak yang diadakan di
seluruh dunia. Begitu juga dengan para ilmuwan asal Indonesia yang studi
dan bekerja di luar negeri, juga mendapat tempat terhormat di perguruan
tinggi dan pemerintahan negara-negara maju.
“Namun berbagai
prestasi itu, sangatlah kontradiktif dengan prilaku yang ditunjukkan
sebagian anak bangsa lain yang bercitra negatif. Korupsi, terorisme,
radikalisme, brutalisme, seakan menjadi hiasan keseharian kehidupan
masyarakat kita juga saat ini,” ungkap Vice President Pemuda Ahmad Doli
Kurnia menyikapi peringatan Hardiknas esok hari, kepada okezone di Jakarta, Minggu (1/5/2011).
Situasi
ini, sambung dia, menegaskan perlunya rekonstruksi sistem pendidikan
nasional, terutama pada pendidikan dasar dengan mengedepankan paradigma
pendidikan berbasis pembangunan karakter selain berbasis kompetensi.
Tujuannya
untuk mengantisipasi berkembangnya kerusakan moral dan ekspansi
penyakit sosial masyarakat, serta memberi kekuatan memfiltrasi derasnya
arus globalisasi. “Masyarakat kita perlu karakter yang kuat, yaitu
karakter bangsa Indonesia sejati,” tegasnya.
Menyikapi soal dana
pendidikan 20 persen, Doli mengatakan perlu ada evaluasi dan koreksi
terhadap proses penggunaannya. Dengan ketetapan besarnya dana pendidikan
itu membuat pejabat dan penyelenggara pendidikan nasional selama ini
dapat terjebak pada praktik korupsi.
“Seharusnya proses
penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dimulai dari penetapan visi,
paradigma, strategi, dan program baru penganggaran, namun sekarang
terbalik. Bahkan terkesan bagaimana menghabiskan dana yang berlimpah
ruah, dengan program apa adanya. Sangat sayang,” urainya.
Doli
lantas menegaskan bahwa dalam keadaan bangsa seperti ini, hanya ada dua
hal besar yang bisa menyelesaikannya. Yaitu kepemimpinan yang kuat dan
berjalannya sistem pendidikan yang benar.
“Sistem pendidikan kita
sekarang menganut paradigma pendidikan berbasis kompetensi. Itu cukup
baik dan menghasilkan anak-anak Indonesia yang pintar dan cerdas. Namun
kita juga jangan lupa ternyata kecerdasan dan kepintaran tidaklah cukup
untuk membangun bangsa yang besar. Selain pintar kita juga membutuhkan
manusia Indonesia yang berkarakter,” tandasnya.