Peneliti senior Lembaga Survei
Indonesia Burhanuddin Muhtadi memiliki dua catatan atas hasil survei
terbaru Indo Barometer yang menemukan Soeharto lebih disukai daripada
Susilo Bambang Yudhoyono.
Catatan pertama, terkait profil responden yang diminta pendapat mengenai perbandingan orde-orde pemerintahan itu.
Responden
yang ada saat ini, sebagian besar merasakan Orde Baru, hanya sebagian
kecil merasakan Orde Lama. Kemudian merasakan sebentar pemerintahan BJ
Habibie, Gus Dur, lalu Megawati dan SBY.
"Itu penting karena
mereka menggunakan memori selektif," kata Burhan saat diwawancara
VIVAnews melalui telepon, Senin 16 Mei 2011.
Akibatnya,
perbandingan orde itu tidak setara karena ada Presiden yang menjabat
sebentar, ada yang lama. Kemudian, masing-masing Presiden memiliki
kompleksitas masalah mereka sendiri sesuai zamannya.
Seharusnya,
kata Burhan, perbandingan baru bisa dilakukan berdasarkan survei yang
digelar di masing-masing orde. Amerika Serikat melakukan itu setiap awal
masa jabatan Presiden baru. Itulah yang kemudian menjadi perbandingan
antara satu presiden dengan presiden lain.
"Namun tentu Indonesia
belum ada seperti itu karena tradisi survei sendiri baru muncul setelah
reformasi. Di masa Orde Baru mana mungkin melakukan survei politik
seperti itu," katanya.
Catatan kedua Burhan adalah, soal hasil
survei Indo Barometer yang menemukan responden yang bermukim di kota
(47%) lebih tinggi prevalensinya mendukung Orde Baru lebih baik daripada
respoden di pedesaan (37%). Menurut Burhan, temuan ini janggal karena
seharusnya responden perkotaan lebih baik tingkat pendidikan dan akses
informasinya, sehingga bisa lebih jernih melihat keadaan.
"Temuan
Indo Barometer ini agak berbeda dengan temuan-temuan lembaga survei
biasanya termasuk Lembaga Survei Indonesia," kata Burhan. "Biasanya
tingkat pendidikan lebih baik, maka punya pemahaman lebih baik."