"Qatar Pasok Rudal Untuk Pemberontak Libya"

Written By Juhernaidi on Jumat, 15 April 2011 | 8:56:00 PM

Para pemberontak Libya mengelilingi kendaraan yang membawa roket anti-tank selama perlawanan yang berlanjut dengan pasukan militer Moammar Gaddafi. (Foto: PressTV)
TRIPOLI – Wakil menteri luar negeri Libya Khaled Kaim menuduh Qatar mengirimkan rudal-rudal anti-tank untuk membantu pemberontakan di negara tersebut. "Qatar mengirimkan rudal Milan Perancis ke pasukan oposisi di Benghazi," ujar Kaim pada hari Rabu (13/4), seraya menambahkan bahwa 20 pelatih Qatar telah dikirim untuk membantu 700 pemberontak di kota Benghazi.
Setelah pertemuan dengan perwakilan dari beberapa negara Eropa dan Timur Tengah di Qatar di hari yang sama, perdana menteri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim Al Thani mengatakan akan menyediakan dukungan material pada pemberontak Libya yang termasuk mempersenjatai orang-orang.
Qatar adalah satu-satunya negara Arab yang telah berpartisipasi dalam perang pimpinan NATO di Libya, mengumumkan dua jet tempur dan dua pesawat pengangkut C-17 ke negara Afrika Utara itu.
Ketika pertentangan mengenai satu strategi yang sama di Libya meluas antara anggota NATO, presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan perdana menteri David Cameron telah sepakat untuk meningkatkan tekanan terhadap penguasa Libya Moammar Gaddafi, menyerukan untuk tambahan bantuan dari sekutu mereka.
Juru bicara kementerian luar negeri Italia Maurizio Massari juga telah meminta masyarakat internasional untuk mempersenjata pejuang revolusi Libya, mengatakan bahwa langkah itu akan sejalan dengan Resolusi 1973 Dewan Keamanan PBB yang mengijinkan semua aksi yang diperlukan untuk melindungi warga sipil.
Bekas sekutu Gaddafi – AS, Inggris, Perancis, Kanada, Denmark, dan Belgia – telah meluncurkan serangan udara terhadap Libya sejak tanggal 19 Maret, di bawah mandat yang sama.
Operasi militer NATO adalah untuk diklaim menyelamatkan oposisi Libya dari Gaddafi, sebuah tujuan yang sejauh ini gagal dicapai oleh sekutu militer Barat.
Sementara itu, sekelompok negara Barat dan Timur Tengah mendesak Gaddafi untuk meletakkan kekuasaan saat bentrokan berlanjut di negara tersebut.
"Gaddafi dan rezimnya telah kehilangan seluruh legitimasi dan dia harus melepaskan kekuasaan, memungkinkan rakyat Libya untuk menentukan masa depan mereka," ujar kelompok itu sebagai pernyataan final yang dikeluarkan setelah konferensi di Qatar pada hari Rabu (13/4).
Pernyataan itu sekaligus mengakui Dewan Transisional Nasional, yang dibentuk oleh kelompok revolusi di Benghazi.
Peserta konferensi, antara lain Perancis, Inggris, Qatar, PBB, Liga Arab, Uni Afrika, Uni Eropa, dan AS, juga menjanjikan dukungan finansial untuk pasukan oposisi di Libya.
Kelompok itu juga menyerukan pada rezim Libya untuk berhenti menyerang warga sipil dan untuk menarik mundur pasukannya dari kota-kota yang telah mereka duduki atau kepung.

Simulasi Jangka Sorong