Setelah pertemuan dengan perwakilan dari beberapa negara Eropa dan
Timur Tengah di Qatar di hari yang sama, perdana menteri Qatar Sheikh
Hamad bin Jassim Al Thani mengatakan akan menyediakan dukungan material
pada pemberontak Libya yang termasuk mempersenjatai orang-orang.
Qatar adalah satu-satunya negara Arab yang telah berpartisipasi dalam
perang pimpinan NATO di Libya, mengumumkan dua jet tempur dan dua
pesawat pengangkut C-17 ke negara Afrika Utara itu.
Ketika pertentangan mengenai satu strategi yang sama di Libya meluas
antara anggota NATO, presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan perdana
menteri David Cameron telah sepakat untuk meningkatkan tekanan terhadap penguasa Libya Moammar Gaddafi, menyerukan untuk tambahan bantuan dari sekutu mereka.
Juru bicara kementerian luar negeri Italia Maurizio Massari juga
telah meminta masyarakat internasional untuk mempersenjata pejuang
revolusi Libya, mengatakan bahwa langkah itu akan sejalan dengan
Resolusi 1973 Dewan Keamanan PBB yang mengijinkan semua aksi yang
diperlukan untuk melindungi warga sipil.
Bekas sekutu Gaddafi – AS, Inggris, Perancis, Kanada, Denmark, dan
Belgia – telah meluncurkan serangan udara terhadap Libya sejak tanggal
19 Maret, di bawah mandat yang sama.
Operasi militer NATO adalah untuk diklaim menyelamatkan oposisi Libya
dari Gaddafi, sebuah tujuan yang sejauh ini gagal dicapai oleh sekutu
militer Barat.
Sementara itu, sekelompok negara Barat dan Timur Tengah mendesak
Gaddafi untuk meletakkan kekuasaan saat bentrokan berlanjut di negara
tersebut.
"Gaddafi dan rezimnya telah kehilangan seluruh legitimasi dan dia
harus melepaskan kekuasaan, memungkinkan rakyat Libya untuk menentukan
masa depan mereka," ujar kelompok itu sebagai pernyataan final yang
dikeluarkan setelah konferensi di Qatar pada hari Rabu (13/4).
Pernyataan itu sekaligus mengakui Dewan Transisional Nasional, yang dibentuk oleh kelompok revolusi di Benghazi.
Peserta konferensi, antara lain Perancis, Inggris, Qatar, PBB, Liga
Arab, Uni Afrika, Uni Eropa, dan AS, juga menjanjikan dukungan finansial
untuk pasukan oposisi di Libya.
Kelompok itu juga menyerukan pada rezim Libya untuk berhenti
menyerang warga sipil dan untuk menarik mundur pasukannya dari kota-kota
yang telah mereka duduki atau kepung.