Myasnikov mengatakan, Stalin sudah tidak mampu lagi membedakan baik dan buruk karena menderita atherosclerosis atau penumpukan lemak di pembuluh arteri otaknya.
Penyakit yang umumnya disebut pengerasan pembuluh arteri tersebut
diyakini dipicu oleh kebiasaan Stalin yang merupakan perokok berat.
Seperti diwartakan Independent, dr. Myasnikov, yang
dipanggil untuk memeriksa Stalin di ranjangnya saat sang diktator
meninggal pada 1953, menuliskan bahwa Stalin sudah lama mengidap
penyakit tersebut.
Stalin meninggal pada usia 74 tahun setelah menderita stroke berat.
Sejumlah teori konspirasi menyebut Stalin diracun oleh anak buahnya.
Tapi, tidak ada bukti kuat untuk membuktikan dugaan tersebut.
Sang dokter, yang juga turut hadir saat jasad Stalin diautopsi,
agaknya tidak menyebutkan ada yang mencurigakan terkait kematian Stalin.
Namun, dr. Myasnikov menuliskan bahwa pengerasan pembuluh arteri di
otak Stalin, yang disaksikannya sendiri pada saat autopsi, membuatnya
yakin bahwa penyakit tersebut semakin memperparah kondisi Stalin yang
memiliki kepribadian kompleks selama bertahun-tahun.
"Stalin mungkin sudah tidak mampu membedakan baik dan buruk, sehat
dan berbahaya, hal yang diizinkan dan yang tidak diizinkan, kawan atau
lawan. Kepribadian orang bisa menjadi dilebih-lebihkan, jadi seseorang
yang curiga menjadi paranoid," tulis sang dokter.
"Saya menduga kekejaman dan kecurigaan Stalin, rasa takutnya terhadap musuh-musuhnya, sebagian besarnya diciptakan oleh atherosclerosis pada pembuluh arteri otak. Akibatnya, negara (Soviet) dipimpin oleh pria yang sakit," tambahnya.
Secara terpisah, buku harian dari salah satu tangan kanan Stalin,
Lavrenty Beria, juga dipublikasikan untuk pertama kalinya. Beria dulu
menjabat kepala NKVD, polisi rahasia Uni Soviet, di bawah kepemimpinan
Stalin.
Dalam kisah Perang Dunia II yang menakjubkan, Beria menceritakan saat
Winston Churchill mabuk bersama Stalin di Moskow saat Uni Soviet dan
Inggris membentuk aliansi melawan Nazi Jerman.
Uni Soviet dan Inggris saling mencurigai satu sama lain, dan keduanya baru bekerja sama saat para pemimpinnya mabuk.
Dalam buku-buku harian tersebut, Beria mengklaim bahwa Churchill
sudah sedemikian mabuknya pada perjumpaan dengan Stalin di bulan Agustus
1942 tersebut sehingga dia "kehilangan perencanaan."
Dalam buku hariannya, Beria menuliskan bahwa dirinya sudah memberi
tahu sang diktator bahwa alkohol adalah cara terbaik untuk membangun
hubungan yang baik dengan sang perdana menteri Inggris dan mendapatkan
kelonggaran darinya.
Beria menjadio salah satu letnan Stalin yang paling dipercayai setelah diangkat menjadi deputi kepala NKVD pada 1938.
Dua tahun kemudian, saat Nikolai Yazhov ditembak mati, Beria
meneruskan kepemimpinan dan terus memimpin hingga setelah kematian
Stalin pada Maret 1953. Sesaat setelah Beria ditangkap dan ditembak.