Pertemuan DKT dilakukan setelah Teheran memperingatkan Riyadh bahwa
mereka tengah bermain api dengan mengirimkan tentara ke Bahrain, yang
mayoritas Syiah, sementara Kuwait mengklaim telah mematahkan lingkaran
mata-mata Iran.
Pada hari Sabtu (3/4), sekretaris jenderal Dewan yang baru,
Abdullatif al Zayani, mengecam ikut campur Iran dalam urusan internal
negara-negara DKT, mengatakan bahwa Iran mengancam keamanan dan
stabilitas di kawasan tersebut.
Pada hari Kamis (31/3), komite keamanan nasional parlemen Iran
mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh media pemerintah
bahwa "Arab Saudi lebih tahu daripada negara lain bahwa di kawasan
sensitif Teluk Persia, bermain api bukan bagian dari kepentingannya," dalam sebuah referensi jelas pada pengiriman pasukan Saudi ke Bahrain.
Riyadh mengecam pernyataan itu sebagai "tidak bertanggung jawab."
Arab Saudi memimpin pasukan gabungan Teluk yang memasuki Bahrain
bulan lalu, memungkinkan otoritas untuk menumpas protes yang dipimpin
oleh kelompok Syiah selama satu bulan.
Demonstran tampaknya terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan
Mesir, meski banyak tokoh menyetujui bahwa pemberontakan di Bahrain
lebih bersifat sektarian.
Kerasnya penumpasan Bahrain, di mana perkumpulan masyarakat dilarang
dan pasukan keamanan diterjunkan di titik-titik pemeriksaan, membuat
marah Iran, kekuatan Syiah non-Arab di kawasan tersebut.
Selain Arab Saudi dan Bahrain, Dewan Kerjasama Teluk juga beranggotakan Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Protes juga menyebar ke kesultanan Oman di mana demonstran menuntut
kondisi hidup yang lebih baik, berusaha mendirikan kerajaan Syiah di
negara tersebut.
Namun, seruan untuk protes nasional di kerajaan Saudi bulan lalu tidak terwujud.
Riyadh merespon peringatan Iran dengan mengecam Teheran karena
"memanas-manasi ketegangan yang diakui di kawasan dan tidak menghormati
norma batas bertetangga yang baik seperti dalam kasus Kuwait di mana sebuah sel mata-mata telah terungkap."
Kuwait pada hari Kamis mengatakan akan mengusir sejumlah diplomat
Iran atas dugaan kaitan dengan lingkaran mata-mata yang bekerja untuk
Teheran, yang dilaporkan telah beroperasi sejak invasi Irak di tahun
2003