Pemilik
tubuh gemuk memang berisiko mengalami gangguan fisik yang serius
termasuk diabetes dan serangan jantung. Namun risiko gangguan psikologis
kadang tak kalah serius, yakni stres menghadapi berbagai stigma negatif
tentang kegemukan. (foto: Google)
Big is not beautiful. Begitulah stigma terhadap orang gemuk yang terus
menyebar dan mengglobal. Studi terbaru bahkan menunjukkan jumlah negara
yang melihat kegemukan tanpa citra negatif terus menyusut dari tahun ke
tahun. Itu artinya, keinginan global akan tubuh langsing terus
meningkat.
Alexandra Brewis, seorang antropolog dari Universitas State Arizona,
mencermati dalam beberapa tahun terakhir ini masyarakat yang semula
berpandangan terbuka terhadap tubuh gemuk makin mengidolakan bentuk
tubuh langsing.
Pemilik tubuh gemuk memang berisiko mengalami gangguan fisik yang
serius termasuk diabetes dan serangan jantung. Namun risiko gangguan
psikologis kadang tak kalah serius, yakni stres menghadapi berbagai
stigma negatif tentang kegemukan.
Stigma negatif yang sering dialamatkan kepada penderita kegemukan
contohnya adalah, orang gemuk biasanya malas, jelek dan tidak laku-laku.
Bahkan ada juga stigma yang berpotensi memicu diskriminasi di tempat
kerja, yakni bahwa orang gemuk tidak punya kontrol diri.
Contoh yang paling terkenal adalah di pulau Fiji, Pasifik Selatan.
Brewis yang mengunjungi pulau tersebut di tahun 1980 menemukan bahwa
kegemukan dirayakan di sana. Tapi seiring datangnya televisi di pulau
itu tahun 1995 padangan masyarakat langsung berubah.
"Gadis-gadis di Fiji mulai membandingkan diri mereka dengan bintang
serial Melrose Place atau Beverly Hills 90210," kata Brewis yang
melakukan penelitian mengenai pandangan global terhadap tubuh langsing.
Dalam sebuah survei di tahun 1998, 15 persen gadis remaja di Fiji
mengatakan mereka sering memancing muntah untuk mengontrol berat
badannya. Angka tersebut melonjak dari 3 persen di tahun 1995.
Arus informasi yang deras dari televisi juga membuat 74 persen gadis remaja merasa dirinya terlalu gemuk.
Meski begitu menginginkan tubuh gemuk tidak sama dengan menstigma
orang gemuk. Menurut Brewis di negara Barat, orang gemuk dipersepsikan
sebagai orang yang malas dan kurang mengontrol diri. Pandangan tersebut
berbeda dengan di negara yang lebih bersahabat pada orang gemuk.
"Walaupun berharap punya tubuh langsing tapi mereka tidak memandang negatif pada orang bertubuh gemuk," katanya.
Brewis dan rekannya melakukan survei terhadap penduduk perkotaan di
negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris dan Islandia, serta negara
latin seperti Amerika Samoa, Argentina, Meksiko, Paraguay, Puerto Rico
dan Tanzania.
Hasil survei menunjukkan tempat-tempat yang ramah terhadap tubuh
gemuk terus menghilang. Tempat seperti Puerto Rico dan Samoa yang dulu
mengaitkan kegemukan dengan cantik kini memandang orang gemuk sebagai
kemalasan. "Situasinya dengan cepat berubah," kata Brewis.
Para peneliti juga menetapkan skor skala 0 (tidak ada stigma) sampai
25 (paling menstigma). Tanzania memiliki skor 10, sedangkan Paraguy
memiliki skor 15. Negara lainnya berada di antara keduanya.
Sayangnya responden dalam penelitian ini hanya sedikit, 700 orang,
sehingga banyak ahli menganggap penelitian ini tidak bisa
merepresentasikan sampel tiap negara. Lagi pula tiap kebudayaan memiliki
cara pandang berbeda terhadap kegemukan.
Di India misalnya, orang yang kegemukan dianggap sebagai orang yang
kaya. Akan tetapi memang di negara-negara berkembang biasanya orang
gemuk kurang beruntung. "Mereka yang kegemukan biasanya sulit mendapat
pekerjaan dan juga jodoh," kata Scott Lear profesor health sciences dari
Kanada.
Pandangan seperti ini berkembang di masyarakat yang mengagungkan
tubuh langsing sebagai daya tarik fisik misalnya Amerika Serikat dan
beberapa negara Eropa. Di negara-negara barat, tubuh langsing seperti
boneka Barbie selalu menjadi idola dan sering memicu anoreksia atau
gangguan pola makan di kalangan remaja putri.
Kini stigma negatif
semacam itu bukan lagi monopoli negara barat, tetapi sudah mulai meluas
ke wilayah lain yang bahkan sejak dulu tidak punya tradisi bertubuh
kurus. Di antaranya adalah Samoa, negara kepulauan di Samudra Pasifik
yang pernah tercatat sebagai negara dengan penduduk paling banyak
menderita kegemukan.
Dalam survei terbaru yang dilakukan Dr
Alexandra Brewis dari Arizona State University, saat ini Samoa justru
termasuk salah satu negara yang paling banyak memberikan stigma negatif
terhadap orang gemuk. Negara lain yang juga banyak memberikan stigma
negatif adalah Meksiko dan Paraguay.
Dr Brewis mengungkap,
masyarakat di Amerika Serikat dan Inggris yang mewakili negara Eropa
justru sudah tidak banyak memberikan stigma negatif. Diduga karena saat
ini jumlah penderita kegemukan baik overweight maupun obesitas makin
meningkat di wilayah tersebut.
"Kami khawatir merebaknya stigma
negatif terhadap penderita kegemukan justru memicu penderitaan baru yang
sebelumnya tidak ada," ungkap Dr Brewis dalam laporannya yang dimuat di
jurnal Current Anthropology, seperti dikutip dari Medicalnewstoday.
Penderitaan
baru yang dimaksud Dr Brewis antara lain bullying (olok-olok) dan
diskriminasi untuk urusan pekerjaan maupun akses untuk mendapatkan
pelayanan di fasilitas umum. Untuk menindaklanjuti temuan ini, ia akan
meneliti sejauh mana pengaruh stigma negatif yang berkembang terhadap
perilaku diskriminatif dari lingkungan