Berdasarkan penelusuran "PRLM",Senin (13/12), saat ini sudah ada 9 dokumen yang disiarkan di sana,
yang rentang waktu pembuatannya antara 1960-an sampai dengan 2009.
yang rentang waktu pembuatannya antara 1960-an sampai dengan 2009.
Kesembilan dokumen tersebut, diantaranya adalah: Laporan Tim Kerja Kasus Munir di Paripurna DPR, Hasil Audit BPK atas Lumpur Lapindo, Laporan Kedubes Amerika Mengenai Timor Timur, Transkrip Soeharto -
Gerald Ford, Laporan Akhir TPF Kasus Meninggalnya Munir, dan Hasil Visum Korban G30S.
Gerald Ford, Laporan Akhir TPF Kasus Meninggalnya Munir, dan Hasil Visum Korban G30S.
Berdasarkan keterangan dari twitter milik WikiLeaks, situs Indoleaks ini sudah mulai menyiarkan bocoran dokumen sejak Jumat lalu. "Laman Indoleaks ( WikiLeaks versi Indonesia) sudah mulai menyiarkan sejumlah bocoran dokumen yang sensitif soal Indonesia," kata WikiLeaks dalam twitternya.
Akan tetapi, keterbatasan infrastruktur laman tersebut menyebabkan, kesembilan dokumen tersebut tidak dapat dilihat, apalagi didownload. Hanya kepala judul dokumen tersebut yang terpampang di sana.
Sejak kemarin hingga hari ini pukul 11.54 WIB, "PRLM" belum juga berhasil men-download dokumen-dokumen tersebut. "PRLM" hanya mendapatkan jawaban "Maaf, saat ini dokumen belum bisa didownload, coba lagi nanti,"
demikian Indoleaks.org merespond.
demikian Indoleaks.org merespond.
Dalam keterangannya, Indoleaks menyebutkan, kemunculannya merupakan jawaban atas kebuntuan informasi.
"Terutama informasi yang berpeluang menjadi bumerang bagi penguasa, politisi dan kaum jahat lainnya di
Indonesia", ungkap Indoleaks seperti dikutip dalam laman tersebut, Senin (13/12).
Oleh karena itu, Indoleaks akan terus mendobrak kebuntuan informasi, dengan mempublikasikan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi sebab informasi adalah hak asasi.
"Terutama informasi yang berpeluang menjadi bumerang bagi penguasa, politisi dan kaum jahat lainnya di
Indonesia", ungkap Indoleaks seperti dikutip dalam laman tersebut, Senin (13/12).