Pekan
Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 secara resmi baru akan dibuka
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (11/9). Namun, perebutan
medali emas sudah dimulai, Jumat (7/9) ini. Atlet aeromodeling putra
Novandri Sebastian asal Banten menjadi peraih medali emas pertama
setelah menyisihkan saingan-saingannya dari Kalimantan Tengah dan
Kalimantan Barat.
Sedangkan atlet putri Nanik Nofianti dari Jawa Tengah, memastikan
memperoleh medali emas di bagian putri dalam pertandingan yang
berlangsung di Bandar Udara Japura, Rengat, Indragiri Hulu, Riau.
Perlombaan aeromodeling nomor trilomba putra dan putri yang terbagi
dalam nomor F1H, F1A, dan Out Hand Launched Glider (OHLG) dimulai
bersamaan sejak pukul 07.30 WIB.
Pada kelompok putra, Novandri berhasil unggul pada nomor F1A yang
membuatnya menyabet medali emas dengan mengantongi skor akhir 263,40.
Sementara pesaingnya, Gunawan Prasetya asal Kalimantan Tengah, meraih
medali perak dengan total skor 262,95 dan Suharisman asal Kalimantan
Barat meraih medali perunggu dengan skor 258,96.
Sementara itu, pada kelompok putri, Nanik memenangi pertandingan
setelah unggul pada nomor F1A dan mengantongi total skor 295,98 dari
tiga nomor itu. Dua pesaing Nanik, salah satunya merupakan rekan satu
timnya asal Jawa Tengah, Alfindita Anggriasa, meraih medali perak dengan
total skor 242,36. Sementara atlet asal Kalimantan Barat, Fitriana
Puspa Hidasar, meraih medali perunggu dengan skor 227,77.
"Ini merupakan emas pertama untuk saya di ajang PON dan saya merasa sangat bangga dan tentunya juga bahagia," kata Novandri.
Novandri mengatakan, meski dia berhasil meraih medali emas, namun pada
saat bertanding, dia merasakan ada kendala terlebih pada perubahan cuaca
yang sangat drastis.
"Perubahan cuaca yang drastis sempat menjadi kendala, namun beruntung
saya memiliki pelatih hebat yang bisa melakukan setting pesawat dengan
baik serta bisa membaca kondisi cuaca yang sering berubah-ubah," kata
peraih medali perunggu pada pra-PON 2011 itu.
Novandri mengatakan, kunci utama bagi dia untuk memenangkan
pertandingan ini adalah peran seorang pelatih yang terus memantapkan
teknik dan fisik serta dukungan bagi mental dari kedua orangtua.
"Kunci utama adalah pelatih dan dukungan orangtua," ujar anak dari pasangan Sipriano Moniz Goncalves dan Idoh Hafidoh itu.
Sementara itu, Nanik mengatakan bahwa keberhasilannya meraih medali
emas tersebut tidak lepas dari peran pelatih serta kedua orangtuanya
yang tak henti-hentinya memberikan dukungan untuk dia.
"Saya sangat senang bisa meraih medali emas yang pertama kali di ajang
PON XVIII dan emas pertama bagi Provinsi Jawa Tengah," kata Nanik.
Nanik mengatakan bahwa medali tersebut dipersembahkan untuk kedua
orangtuanya dan pelatih yang terus mendukung dia tanpa henti. "Beban
untuk pertandingan lebih berat, karena tiga nomor digabungkan menjadi
satu," kata peraih dua medali emas pada Kejurnas Musi Rawas tahun 2010
tersebut.
Meskipun keduanya telah dipastikan meraih medali emas PON XVIII, namun
penyerahan medali bagi keduanya itu akan dilaksanakan pada Sabtu (8/9)
pukul 11.00 WIB di Bandar Udara Japura, Rengat, Indragiri Hulu, Riau.
Pelatih Aeromodeling Provinsi Banten Achmad Iswadi mengatakan bahwa
kunci dari kesuksesan anak asuhnya meraih medali emas adalah faktor
psikologi, fisik, dan intelektual.
"Mereka yang terbaik untuk Provinsi Banten, namun tiga faktor seperti
psikologi, fisik dan intelektual merupakan hal yang sangat penting bagi
para anak asuh saya," kata Achmad.
Achmad mengatakan bahwa apabila tiga faktor utama tersebut tidak bisa
terpenuhi, maka tidak akan bisa mencapai hasil maksimal, ditambah pada
PON XVIII kali ini dia harus menjadi orangtua bagi tiga atlet Banten
untuk pertama kalinya.
"Namun, hal yang paling sulit adalah mengetahui kebiasaan anak asuh
saya yang merupakan anak-anak muda," ujar Achmad, yang memakai metode
pendekatan kekeluargaan bagi anak asuhnya.
Pada pertandingan aeromodeling yang digelar di bandara tertua di
Provinsi Riau tersebut, diikuti oleh 48 orang atlet yang terbagi dari 38
atlet putra dan 10 atlet putri dari 15 provinsi. DKI Jakarta yang hanya
menurunkan tim putra, yakni Rahmat Widodo dan Agung Suseno, belum
berhasil meraih medali.
Menurut pelatih aeromodeling DKI ME Mulyono, kekalahan anak didiknya
itu lebih disebabkan oleh faktor alam yang tidak terlalu mendukung.
"Cabang aeromodeling itu kan cabang yang tidak terukur. Jadi,
kemenangan itu bisa ditentukan oleh adanya faktor pendukung alam,
seperti angin. Nah, kekalahan kita di nomor ini disebabkan karena faktor
itu," kata Mulyono.
Ia menyatakan bahwa saat pesawat dimainkan, kedua atlet DKI tidak mampu
memainkan teknik-teknik sulit dan ketepatan waktu yang mampu
menghasilkan poin banyak karena kencangnya hembusan angin.
"Faktor waktu banyak menentukan dan faktor teknisnya adalah angin. Bisa
saja atlet baru mendapat nilai yang baik saat baru melempar, ternyata
anginnya juga baik. Kebetulan saat DKI main, selepas siang anginnya
sangat kencang. Jadi, itulah diperlukan juga faktor lucky
(keberuntungan)," ucapnya.
Di sisa pertandingan lainnya, Mulyono bertekad bahwa pihaknya harus
merebut minimal tiga emas, atau lebih baik dari perolehan medali pada
PON sebelumnya di Kaltim yang hanya meraih 2 emas dan 3 perunggu.
"Kami harus lebih baik dari PON sebelumnya. Dan, emas nanti kami
harapkan bisa diraih di nomor dwilomba control line, radio control dan
control line combat," ujar pria berkacamata ini menambahkan.
Sedih Didiskualifikasi
Pada bagian lain, Nanang R Hidayat, atlet aeromodeling Sumatera Selatan
yang berprestasi mengaku sedih setelah didiskualifikasi dari arena
Pekan Olahraga Nasional ke XVIII/2012 di Riau.
"Nanang saat ini sedih, dia selalu murung setelah didiskualifikasi oleh
dewan hakim hanya karena kesalahan administrasi," kata Manajer Tim
Aeromodelling Sumatera Selatan Ade Indra Chaniago di Pekanbaru, Jumat.
Nanang merupakan atlet peraih mendali emas untuk cabang aeromodeling
pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XVII di Kalimantan Timur.
Menurut Ade, sebelumnya Nanang sempat bergabung bersama tim Banten
sejak tahun 2004-2009, yang kemudian bergabung bersama tim Sumsel sejak
akhir 2009 setelah merasa tidak puas dengan honor yang diberikan oleh
Banten.