Allah SWT menurunkan Al-Qur'an pada lailatul qadri (malam yang agung), yaitu lailah mubarakah
(malam yang dibekahi). Itulah malam yang nilai ibadah pada saat itu
lebih utama dari ibadah selama 1000 bulan, yaitu setara dengan ibadah
selama 83 tahun 4 bulan. Itulah malam yang penuh dengan kebaikan dan
keberkahan. Karena besarnya kemuliaan dan keutamaan ibadah di dalamnya,
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mencari dan meraih lailatul
qadar. Allah SWT berfirman,
(إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي
لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ
الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ
فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ
الْفَجْرِ).
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam
kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan
itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat
dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr (97): 1-5)
(حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا
كُنَّا مُرْسِلِينَ )
Haa Miim. Demi Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya
Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya
Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala
urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, (QS. Ad-Dukhan (44): 1-5)Sebab Dinamakan Lailatul Qadar
Para ulama berbeda pendapat mengenai sebab malam tersebut disebut lailatul qadar. Imam Ath-Thabari, Al-Qurthubi, An-Nawawi, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Asy-Syaukani, Ash-Shan'ani, dan lain-lain menyebutkan sebagian pendapat tersebut sebagai berikut:
-
Pada malam tersebut dicatat dan ditakdirkan segala takdir tahunan
untuk seluruh hamba selama satu tahun penuh, baik yang berkaitan dengan
umur, rizki, baik dan buruknya perbuatan, maupun bahagia dan sengsaranya
nasib mereka. Sesuai dengan firman Allah, "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami."
(QS. Ad-Dukhan (44): 4-5). Sahabat Ibnu Abbas berkata: "Dicatat dalam
ummul kitab (di Lauh Mahfuzh—edt) apa yang akan terjadi selama satu
tahun tersebut baik berupa kebaikan, keburukan, rizki, maupun usia.
Bahkan siapa yang akan menunaikan haji. Dicatat: Fulan A melaksanakan
haji, fulan B melaksanakan haji." Imam Mujahid bin Jabr, Qatadah bin
Di'amah, dan Hasan Al-BAshri berkata, "Pada waktu lailatul qadar di
bulan Ramadhan ditetapkan seluruh umur, perbuatan, kelahiran, dan rizki,
dan segala hal yang akan terjadi selama setahun tersebut."
-
Lailatul qadar diambil dari kata dasar al-qadru yang artinya agung dan mulia. Dalam bahasa Arab dikatakan Fulaan Dzu Qadr,
artinya fulan memiliki keagungan dan kemuliaan. Malam tersebut disebut
lailatul qadar karena ia memiliki keagungan dan keistimewaan yang tidak
dimiliki oleh malam-malam yang lain. Demikian dikatakan oleh imam
Al-Baghawi.
-
Dinamakan lailatul qadar karena amal ibadah pada waktu tersebut
memiliki keagungan dan keistimewaan tersendiri. Sebagaimana difirmankan
oleh Allah, "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
(QS. Al-Qadr (97): 3). Imam Mujahid berkata, "Maknanya adalah amal
ibadah, shaum (di siang harinya), dan shalat malam pada waktu itu lebih
baik dari amal serupa selama seribu bulan." Imam Amru bin Qais Al-Malai
berkata, "Amal perbuatan pada waktu itu lebih baik dari amal perbuatan
serupa selama seribu bulan."
-
Dinamakan lailatul qadar karena pada malam tersebut dimuliakan oleh
Allah dengan diturunkannya Al-Qur'an pertama kali. Demikian pendapat
imam Al-Izz bin Abdis Salam, berdasar firman Allah, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan." (QS. Al-Qadr (97): 1)
-
Dinamakan lailatul qadar karena pada malam tersebut Allah memberikan
keputusan dan perincian segala perkara hamba-Nya. Demikian dikatakan
oleh imam Mujahid dan An-Nawawi.
Keutamaan Lailatul Qadar
Lailatul qadar memiliki banyak keutamaan atas seluruh malam yang lain dalam satu tahun.
-
Pada malam tersebut untuk pertama kalinya Al-Qur'an diturunkan. Firman Allah, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan." (QS. Al-Qadr (97): 1)
-
Amal kebaikan pada malam itu lebih utama dari amal kebaikan serupa
yang dikerjakan dalam waktu yang lain selama seribu bulan. Firman Allah,
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr (97): 3)
-
Para malaikat dipimpin oleh malaikat Jibril turun ke dunia dengan membawa kebaikan dan keberkahan. Firman Allah, "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr (97): 4). Tentang makna ayat ini, imam Al-Baghawi menulis: "Para
malaikat beserta malaikat Jibril turun pada malam lailatul qadar dengan
izin Rabb mereka, yaitu dengan membawa seluruh perkara kebaikan dan
keberkahan." Imam Ibnu Katsir menulis, "Para malaikat banyak
turun pada malam tersebut karena banyak kebaikan dan keberkahannya.
Sesungguhnya para malaikat turun bersamaan dengan turunnya keberkahan
dan rahmat. Hal itu seperti saat mereka turun saat pembacaan Al-Qur'an,
mengelilingi majlis ilmu dan menaungi dengan sayap-sayap mereka orang
yang menuntut ilmu secara sungguh-sungguh."
-
Malam itu dipenuhi dengan keselamatan dan salam peghormatan sampai terbitnya fajar. Firman Allah, Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr (97): 5). Imam Abu Muzhaffar As-Sam'ani dan Ibnu Al-Jauzi menerangkan bahwa ayat ini memiliki dua pengertian. Pertama,
seluruh malam itu penuh dengan keselamatan, sehingga tidak ada satu
penyakit pun yang turun, tidak ada satu perbuatan dukun dan setan pun
yang terjadi. Kedua, seluruh malam itu penuh dengan kebaikan
dan keberkahan. Pada malam itu para malaikat mengucapkan salam
keselamatan dan penghormatan kepada setiap mukmin yang beramal
kebajikan.
-
Shalat tarawih dan witir yang dikerjakan atas landasan iman dan
ikhlash mencari ridha Allah SWT semata pada malam itu dapat menggugurkan
dosa-dosa kecil yang telah lampau. Berdasar hadits,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ))
Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa melakukan shalat malam (tarawih dan witir) pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala di sisi-Nya, maka dosa-dosa kecilnya yang telah lampau akan diampuni." (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)
-
Pada malam tersebut Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk
menyalin dari Lauh Mahfuzh ke dalam buku takdir tahunan catatan segala
rizki, umur, perbuatan, nasib, dan hal yang akan terjadi selama satu
tahun penuh. Firman Allah, "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami."
(QS. Ad-Dukhan (44): 4-5). Ibnu Abbas berkata, "Pada malam tersebut
Allah menjelaskan segala perkara yang akan terjadi di dunia sampai
setahun berikutnya, baik berupa kehidupan, kematian, maupun
rizki."Pendapat serupa dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, Hasan
Al-Bashri, Abu Abdurrahman As-Sulami, dan lain-lain.
Saudaraku seislam dan seiman…
Lailatul qadar adalah sumber kebaikan dan keberkahan yang agung. Ia adalah malam yang begitu mulia. Ia harus menjadi 'buruan utama' setiap muslim di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. Amat merugilah kita bila tidak mendapat karunia agung ini, sebagaimana dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW,
(( أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ
مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ... لِلَّهِ
فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ
حُرِمَ ))
"Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah.
Allah mewajibkan atas kalian shaum dalam bulan ini…Dalam bulan ini,
Allah memiliki sat malam yang lebih baik dariada seribu bulan.
Barangsiapa terhalang dari kebaikan malam tersebut, niscaya ia telah
terhalang dari kebaikan yang agung." (HR. An-Nasai no. 2079 dan Ahmad no. 6851. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Jami' Shaghir no. 55)Wallahu a'lam bish-shawab.
Ramadhan & Lailatul Qadar #1
Oleh: Muhib al-Majdi