PAMEKASAN
- Achmad Fahmi, balita berusia 10 bulan itu tergeletak di balai bambu
rumahnya di Dusun Glugur, Desa Kodik, Kecamatan Proppo, Kabupaten
Pamekasan, Madura, Jawa Timur, harus menanggung derita. Sebab sejak
lahir dia tak memiliki anus.
Dalam kesehariannya Fahmi hanya
bergantung pada saluran pembuangan yang dibuat di bagian perut bawah
dan harus menahan sakit kala buang air besar lantaran tidak memiliki
anus. Orangtuanya yang hanya seorang buruh serabutan tak mampu
membiayai operasi untuk membuka anusnya.
Sumarni, ibu Fahmi,
mengaku awalnya tidak menyangka anaknya lahir tanpa anus, Namun dengan
besar hati dia membawa anaknya menjalani operasi di Surabaya untuk
membuat lubang anus buatan, meski dengan biaya yang tidak sedikit.
Seentara
itu, kakeh Fahmi yakni Supaat mengaku, keluarga juga sempat membawa
Fachmi ke Surabaya untuk menjalani operasi lanjutan. Namun setelah di
Surabaya tidak ada kamar di rumah sakit, dan akhirnya dibawa pulang
kembali.
“Saya sudah ke Surabaya, namun setelah sampai di sana
tidak dapat kamar untuk melakukan operasi, baru-baru ini pihak rumah
sakit Surabaya menghubungi, jika sudah ada kamar untuk merawat cucunya
itu, namun yang menjadi persoalan saat ini biaya untuk ke Surabaya
tidak ada,” ujarnya.
Dengan adanya kondisi seperti itu pihaknya
hanya bisa pasrah, sambil mencari pinjaman pada para tetangga untuk
keperluan operasi. Belum lagi untuk kebutuhan popok yang dijadikan
pembalut harganya Rp6.000 dan sehari harus ganti empat kali. Sungguh
beban yang sangat berat bagi keluarga Fahmi yang tidak memiliki
penghasilan tetap.